Kadang kita harus tersesat bukan untuk menemukan jalan baru, tapi untuk memastikan bahwa jalan lama memang benar-benar kita pilih. Bukan karena takut. Bukan karena terbiasa. Tapi karena kita tahu itulah kita.
Pagi itu tidak terasa berat. Tidak juga ringan. Hanya… jujur. Aku bangun tanpa tergesa. Tanpa pikiran yang berlari ke mana-mana. Semuanya terasa lebih pelan. Tapi tidak kosong.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Menatap tanganku sendiri. Beberapa detik. Lalu menarik napas dalam. Hari ini aku kembali ke tempat itu. Ke ruang yang kemarin hampir membuatku kehilangan diri. Tapi kali ini aku tidak datang untuk membuktikan apa pun. Aku datang untuk memilih. Sekali lagi.
Kelas terasa sama. Lorong yang sama. Suara yang sama. Orang-orang yang sama. Tapi langkahku tidak lagi sama. Aku tidak mempercepat. Tidak juga memperlambat. Aku hanya berjalan dengan sadar. Bahwa aku ada di sini karena aku memilih.
Aku masuk ke kelas. Beberapa orang sudah duduk.
Sera melirik. Mengangkat alis sedikit. Seperti bertanya tanpa suara.
Aku hanya tersenyum kecil.
Ia mengangguk.Tidak bertanya lagi. Dan itu cukup.
Hari itu tugas baru diberikan.
“Tema hari ini: kehilangan.”
Instruktur itu berkata tegas. Beberapa orang langsung menunduk.
Mulai menulis.
Cepat.
Seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Aku tidak langsung bergerak. Aku menatap kertas kosong.
Putih.
Tenang.
Tidak menuntut apa pun.
Aku tidak merasa harus segera mengisinya. Aku membiarkan diriku diam. Beberapa detik. Beberapa napas. Dan dalam diam itu aku mendengar sesuatu. Bukan suara luar. Tapi dari dalam.
Aku mulai menulis. Tidak terburu-buru. Tidak juga berhenti terlalu lama. Setiap kata datang bukan dari kepala saja. Tapi dari sesuatu yang lebih dalam.
Aku tidak mencoba menjadi “berbeda”. Tidak juga mencoba menjadi “bagus”. Aku hanya…jujur. Tentang kehilangan. Tentang hampir kehilangan. Tentang memilih kembali. Dan tanpa sadar tulisanku mengalir.
Tidak sempurna.
Tidak rapi.
Tapi hidup.
“Waktu habis.”