Ada perbedaan antara belajar dan diuji. Di ruang kecil kita bisa jujur tanpa takut. Tapi di panggung setiap kejujuran dipertaruhkan. Dan tidak semua kejujuran diterima.
Hari itu pengumuman datang. Tidak panjang. Tidak dramatis. Hanya selembar kertas— ditempel di papan pengumuman. Nama-nama terpilih untuk tahap berikutnya.
Aku berdiri di depan papan itu. Tidak langsung mencari. Tidak terburu-buru. Aku hanya melihat baris demi baris. Dan ketika mataku menemukan namaku aku tidak tersenyum. Tidak juga kaget. Hanya diam. Seperti sesuatu yang sudah kuketahui akan datang.
“Kinanti.”
Sera berdiri di sampingku.
Aku menoleh.
Namanya juga ada.
Kami saling menatap.Tidak ada teriakan. Tidak ada pelukan. Hanya anggukan kecil. Seperti dua orang yang tahu perjalanan ini belum selesai.
“Ini tahap seleksi wilayah.”
Instruktur menjelaskan di depan.
“Dari sini, hanya sedikit yang akan maju ke nasional.”
Semua mendengarkan.
“Kalian tidak hanya dinilai dari tulisan…”
ia berhenti. “…tapi juga dari konsistensi.”
Kata itu terasa berat.
Konsistensi.
Artinya bukan sekali bagus. Tapi terus. Dan itu lebih sulit.
Hari-hari berikutnya berubah. Lebih padat. Lebih cepat. Lebih… menekan. Tugas datang bertubi-tubi.Waktu semakin sempit. Dan standar semakin tinggi. Tidak ada lagi ruang untuk “coba-coba”. Semua harus tepat. Semua harus kuat. Dan di tengah semua itu aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan keraguan. Tapi tekanan. Tekanan yang tidak datang dari dalam tapi dari luar.
“Topik hari ini: kehilangan yang tidak bisa dimaafkan.”Instruktur itu berkata.
Beberapa orang langsung menulis.
Cepat.
Seolah sudah terbiasa.
Aku menatap kertas.
Aku ragu. Bukan ragu pada diriku. Tapi ragu pada dunia. Apakah semua kejujuran boleh ditulis? Apakah semua luka layak dibuka?
Aku menarik napas dalam. Lalu mulai menulis. Tidak secepat yang lain. Tapi tidak berhenti. Aku menulis tentang sesuatu yang bahkan belum pernah kuceritakan sepenuhnya. Tentang rasa menjadi pengganti. Tentang ditinggalkan tanpa penjelasan. Tentang hampir kehilangan diri. Dan setiap kata terasa seperti membuka sesuatu yang lama terkunci.