Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #32

Dipilih atau Disingkirkan

Ada saatnya hidup tidak memberi jawaban yang jelas. Kita tidak tahu apakah kita sedang menang, atau hanya belum benar-benar kalah. Karena tidak semua yang dipilih benar-benar diterima. Dan tidak semua yang disingkirkan benar-benar kalah.

Hari itu datang juga. Pengumuman. Kata yang sederhana tapi mampu membuat banyak orang menahan napas.

Kami berdiri di depan papan. Lebih tegang. Tidak ada yang bicara keras. Semua seperti menjaga sesuatu yang tidak terlihat.

Aku berdiri sedikit di belakang. Tidak ingin berebut. Tidak ingin tergesa. Sera di sampingku. Tangannya terlipat. Wajahnya tenang. Tapi matanya tidak.

“Siap?”

Ia bertanya pelan.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Padahal tidak ada yang benar-benar siap.

Kertas itu ditempel. Cepat. Tanpa pengumuman panjang. Hanya daftar nama untuk yang lanjut ke tahap nasional. Kerumunan langsung bergerak.

Mendekat.

Mencari.

Menilai.

Aku tetap di tempat. Beberapa detik. Menarik napas. Lalu melangkah.

Mataku mulai membaca. Baris pertama. Kedua. Ketiga. Dan ketika aku menemukan namaku aku berhenti.

“Kinanti.”

Di sana.

Jelas.

Tanpa kesalahan.

Aku terdiam. Tidak tersenyum. Tidak juga lega. Hanya… diam. Seperti sesuatu yang tidak langsung masuk ke dalam diriku.

“Namamu ada.”Sera berkata.

Aku menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan hal yang sama. Aku melihat ke papan lagi. Mencari satu nama Sera.

Baris pertama tidak ada.

Baris kedua, tidak ada.

Baris ketiga, tetap tidak ada.

Dadaku terasa kosong.

Aku menoleh. Ia sudah tahu. Tanpa perlu melihat lebih lama.

“Selamat,”Sera berkata.

Suaranya tidak patah. Tidak juga dipaksakan. Hanya… datar.

Aku membuka mulut. Tapi tidak tahu harus berkata apa.

“Terima kasih…”

Kalimat itu terasa salah. Tidak cukup. Tidak tepat.

Sera tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia mengangguk kecil. Lalu melangkah mundur. Perlahan. Menjauh dari kerumunan. Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Menang bisa terasa sepi.

Hari itu tidak ada perayaan. Tidak ada ucapan panjang. Hanya beberapa tepuk tangan. Beberapa pujian. Beberapa tatapan iri. Dan satu perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Aku berjalan keluar. Langkahku ringan tapi tidak terasa benar. Seperti sesuatu yang hilang di saat aku seharusnya mendapatkan.

Lihat selengkapnya