Ada panggung yang tidak hanya meminta kemampuan. Ia meminta keberanian untuk berdiri tanpa perlindungan. Tanpa alasan. Tanpa tempat bersembunyi. Dan di panggung itu kita tidak lagi dinilai dari apa yang kita lakukan. Tapi siapa kita sebenarnya.
Perjalanan itu panjang. Bukan hanya jarak tapi juga perasaan. Aku duduk di kursi kendaraan. Menatap ke luar jendela. Pohon-pohon bergerak mundur. Jalan terus memanjang. Dan di antara semua itu aku merasa seperti sedang menuju sesuatu yang tidak bisa kuhindari. Bukan karena aku dipaksa. Tapi karena aku sudah memilih.
Gedung itu besar. Lebih besar dari yang kubayangkan.
Berdiri tegak dengan pintu kaca yang memantulkan siapa pun yang mendekat. Aku berhenti sejenak di depannya. Melihat bayanganku sendiri.
Diam.
Tidak bergerak.
Seperti bertanya siapa yang akan masuk ke dalam sana?
Aku?
Atau versi lain dari diriku?
“Peserta lomba?”Seorang panitia menyapa.
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Silakan registrasi di dalam.”
Aku menarik napas dalam lalu melangkah masuk. Ruang itu penuh. Orang-orang dari berbagai daerah. Wajah-wajah baru. Suara-suara asing. Semua membawa sesuatu. Ambisi. Harapan. Tekanan. Dan aku berdiri di tengahnya. Tidak kecil. Tapi juga tidak merasa besar. Hanya… ada.
“Kinanti?” Suara memanggil.
Aku menoleh.
Seorang perempuan. Usianya tidak jauh berbeda. Wajahnya tenang. Tapi matanya tajam. “Aku Livia.”
Ia mengulurkan tangan.
Aku menjabat.
“Kinanti.”
“Kamu dari…?”
Aku menyebut daerahku.
Ia mengangguk.
“Katanya tulisanmu ‘berbeda’.”
Aku tersenyum kecil.
“Katanya.”
Ia tertawa pelan.
“Di sini semua orang ‘katanya’.”
Aku diam.
Kalimat itu ringan tapi mengandung sesuatu bahwa di tempat ini label tidak cukup. Semua harus dibuktikan. Hari pertama dimulai dengan pengarahan. Penjelasan aturan. Teknis. Penilaian. Dan satu kalimat yang membuat ruangan hening.
“Di tahap ini…” Seorang juri berkata, “…kami tidak mencari yang terbaik.”
Semua menatap.
“Kami mencari yang paling jujur yang tidak kehilangan dirinya di tengah tekanan.”