Bodoh

Nova Yarnis
Chapter #34

Keputusan yang Tidak Terlihat

Tidak semua keputusan dibuat di depan orang banyak. Ada yang lahir di dalam diam. Tanpa saksi. Tanpa tepuk tangan. Tanpa jaminan. Dan justru karena itu ia paling menentukan.

Hari terakhir. Babak final. Ruangan lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi keramaian. Tidak ada lagi banyak peserta. Hanya beberapa orang yang tersisa. Yang dianggap cukup. Yang dianggap layak. Dan di antara mereka aku berdiri. Tidak gemetar. Tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Karena aku tahu hari ini bukan tentang siapa yang paling baik. Tapi siapa yang berani memilih.

“Tema terakhir.”Salah satu juri berkata.

Suara tenang tapi tegas.

“Yang tidak pernah kamu ceritakan.”

Kalimat itu langsung mengisi seluruh ruangan. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang langsung menulis. Semua seperti dipaksa menatap ke dalam diri masing-masing. Aku merasa ini bukan sekadar tema.

Ini…tantangan.

Aku menatap kertas kosong. Dan sesuatu di dalam diriku langsung bergerak cepat. Keras. Tidak bisa diabaikan. Tentang apa yang tidak pernah kuceritakan. Tentang apa yang selalu kutahan. Tentang bagian dari diriku yang bahkan aku sendiri tidak ingin mengakuinya. Dan di antara semua itu satu bayangan muncul.

Rumah itu.

Keluarga itu.

Roni.

Dinda.

Dan satu hal yang belum pernah kutuliskan sepenuhnya. Bukan karena tidak bisa. Tapi karena…aku belum siap.

Aku memegang pulpen. Lebih erat dari biasanya. Jantungku berdetak lebih cepat. Bukan karena waktu. Tapi karena pilihan. Aku bisa menulis sesuatu yang “aman”. Sesuatu yang tetap jujur tapi tidak terlalu dalam. Tidak terlalu membuka. Tidak terlalu menyakitkan. Dan kemungkinan besar akan diterima. Atau aku bisa menulis yang sebenarnya yang belum pernah keluar. Mungkin akan membuat orang tidak nyaman. Mungkin akan membuatku terlihat lemah atau bahkan salah.

Aku menutup mata dan dalam gelap itu aku mendengar dua suara.

Pertama tenang.

“Jangan terlalu jauh.”

“Ini lomba.”

“Kamu sudah sampai sejauh ini.”

“Jangan rusak.”

Kedua lebih pela tapi lebih dalam.

“Kalau bukan sekarang…”

Lihat selengkapnya