Pengumuman itu akhirnya datang, seperti kebanyakan hal yang pernah ditunggu: tidak dengan gemuruh, melainkan dengan cara yang hampir biasa saja selembar informasi yang beredar, berpindah dari satu layar ke layar lain, tanpa upacara.
Pagi itu berjalan tanpa tanda. Tidak ada firasat, tidak ada kegelisahan yang menuntut untuk segera diselesaikan. Aku bangun, merapikan selimut, menyalakan air, dan duduk di dekat jendela seperti hari-hari sebelumnya. Cahaya masuk tanpa tergesa, menempel di lantai, lalu merambat perlahan ke kaki kursi. Untuk beberapa saat, aku benar-benar lupa.
Lomba itu ruang besar dengan lampu terang, wajah-wajah asing, dan kata-kata yang ditimbang terasa seperti sesuatu yang sudah lewat cukup jauh. Bukan hilang, hanya tidak lagi mendesak.
Teleponku bergetar di meja. Sekali. Lalu berhenti. Beberapa detik kemudian, ia kembali berbunyi, lebih panjang, seolah ada yang menahan tombol sedikit lebih lama dari biasanya.
Aku tidak segera meraihnya. Ada jeda kecil yang aneh bukan ragu, bukan juga takut. Hanya keinginan untuk membiarkan sesuatu tetap di tempatnya beberapa detik lebih lama.
Ketika akhirnya kubuka, pesan itu sudah menunggu:
Hasil final sudah diumumkan.
Tidak ada tanda seru. Tidak ada penekanan. Kalimat itu berdiri sendiri, seperti pintu yang sudah dibuka tanpa suara.
Aku menatapnya sebentar sebelum menyentuh tautan di bawahnya. Nama-nama itu tersusun rapi. Urutan. Peringkat. Keterangan singkat yang menjelaskan siapa berada di mana. Mata ini bergerak pelan, tidak melompat, tidak tergesa. Seperti membaca sesuatu yang tidak lagi harus dikejar.
Sampai ke baris terakhir. Namaku tidak ada. Aku berhenti sejenak, lalu menutup layar. Tidak ada gerakan yang dramatis. Tidak ada napas yang tertahan terlalu lama. Semuanya berlangsung seperti seseorang yang menutup buku yang sudah selesai dibaca tanpa perlu menandai halaman.
Anehnya, tidak ada yang benar-benar runtuh. Tidak juga terasa kosong. Hanya semacam lapisan tipis yang mengendap di dalam seperti hujan yang tidak deras, tetapi cukup untuk membuat tanah lembap dan bau rumput muncul perlahan.
Mak keluar dari dapur dengan langkah yang sudah kukenal sejak kecil tidak terburu, tidak pula pelan. Ia berhenti di ambang ruang, memandangku sekilas.
“Kabar apa?” tanyanya.
“Sudah keluar,” jawabku.
Ia mendekat, menarik kursi, lalu duduk tanpa suara.
“Bagaimana?”
Aku menatapnya sebentar, mencoba menemukan kata yang tidak perlu diperpanjang.
“Nggak masuk.”
Mak tidak mengubah ekspresinya. Ia hanya mengangguk, seperti menerima kabar tentang sesuatu yang memang bisa terjadi.
“Ya sudah,” katanya.
Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat yang dipaksakan menjadi penghiburan. Dan justru karena itu, semuanya terasa ringan seperti tidak ada yang perlu ditopang.
Hari berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang berubah secara mencolok. Di sekolah, suara bel tetap berbunyi pada waktunya. Buku-buku tetap dibuka. Orang-orang tetap berbicara tentang hal-hal kecil yang tidak berkaitan dengan apa pun yang sempat terasa besar beberapa hari lalu.
Sera menemuiku di koridor, bersandar pada dinding dengan satu kaki sedikit terangkat.
“Sudah keluar,” katanya.
“Iya.”
Ia menatapku, mencoba membaca sesuatu yang mungkin tidak tampak.
“Kamu tahu, ya.”