BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #1

Gembok Besi di Pintu Depan

Matahari baru saja naik di ujung gang RT 04. Udara pagi masih lumayan dingin.

Pak Slamet berjalan santai menyusuri jalan tanah sambil membawa kantong plastik hitam. Isinya cuma dua papan tempe dan seikat kangkung untuk lauk makan siang. Langkah kakinya mendadak melambat saat ia lewat di depan rumah Pak Dani.

Rumah itu sangat sederhana. Dinding bagian bawahnya tembok putih kusam, sedangkan bagian atasnya dilapisi papan kayu. Atapnya menggunakan seng gelombang yang sudah agak berkarat di beberapa titik. Tidak ada pagar atau pembatas sama sekali di bagian depan. Teras kecilnya yang berlantai semen kasar langsung menyatu dengan jalan tanah gang.

Tapi ada satu hal yang bikin Slamet berdiri mematung.

Pintu depan rumah Pak Dani terkunci gembok dari luar.

Gembok besinya cukup besar, warna hitam, dan menggantung di selot pintu kayu. Kuncinya sudah dicabut, menandakan pintu itu terkunci rapat dari luar.

Slamet menghentikan langkah kakinya tepat di pinggir jalan. Ia berdiri memperhatikan pintu itu selama beberapa detik.

Mengunci pintu dari luar adalah hal yang sangat wajar kalau pemilik rumah sedang pergi ke pasar, berangkat kerja, atau mudik ke kampung halaman. Tapi masalahnya, dari balik dinding rumah yang tipis itu, Slamet mendengar suara aktivitas orang yang sangat jelas.

Ada bunyi keran air menyala di kamar mandi. Ada suara ijuk sapu yang digesekkan ke lantai ubin. Bahkan bau tumisan bawang merah dan terasi dari dapur tercium sangat kuat sampai ke jalan.

Tidak lama kemudian, terdengar suara tawa perempuan, disusul suara anak laki-laki yang lagi menghafal perkalian matematika dengan nyaring.

Keluarga Pak Dani jelas-jelas ada di dalam rumah. Semuanya lengkap. Ada Pak Dani, istrinya, dan kedua anak mereka yang masih sekolah.

Slamet menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia bingung sendiri. Orang biasanya mengunci pintu memakai gembok dari luar supaya rumahnya aman dari maling saat ditinggal kosong. Lah ini, orangnya ada di dalam rumah, lagi masak dan belajar, tapi pintunya malah digembok dari luar.

“Lagi ngelihatin apa kamu, Met? Pagi-pagi kok sudah melamun di jalan.”

Suara berat dari belakang bikin Slamet kaget. Ia menoleh dan melihat Pak RT berdiri di belakangnya sambil memegang cangkul di bahu.

“Eh, Pak RT,” kata Slamet sambil menunjuk ke pintu depan rumah Pak Dani. “Ini loh, Pak RT. Coba lihat pintu depannya.”

Pak RT memicingkan mata. Ia maju dua langkah di pinggir jalan untuk melihat lebih jelas. Matanya tertuju pada gembok besi hitam yang menggantung di selot pintu.

“Loh, pintunya digembok dari luar?” gumam Pak RT. Dahinya langsung berkerut. “Pak Dani sekeluarga lagi pergi ke mana? Kemarin sore saya masih lihat istrinya lagi menyapu di depan.”

“Mereka tidak ke mana-mana, Pak RT,” sahut Slamet pelan. Ia mendekat ke Pak RT dan menurunkan nada suaranya. “Semuanya ada di dalam rumah.”

Lihat selengkapnya