BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #2

Senyuman Pak Dani

Aktivitas di RT 04 berjalan seperti hari-hari biasanya. Orang-orang kampung sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tukang sayur motor melintas sambil membunyikan klakson, beberapa ibu rumah tangga sibuk mengurus jemuran pakaian di pelataran rumah, dan bapak-bapak yang libur kerja memilih menyiram tanaman atau membersihkan kandang ayam.

Pak Slamet sendiri sudah tidak terlalu memikirkan kejadian gembok besi tadi pagi. Bagi Slamet, itu cuma urusan pribadi Pak Dani. Mau pintunya digembok dari luar, dari atas, atau dari bawah, selama tidak merugikan orang lain, ya tidak ada masalah.

Sekitar jam sepuluh pagi, matahari mulai terasa lumayan terik.

Slamet keluar dari rumahnya membawa wadah plastik berisi sisa nasi semalam untuk diberikan kepada ayam-ayam peliharaannya di pekarangan samping. Rumah Slamet cukup dekat dengan tempat tinggal Pak Dani. Dari pekarangan sampingnya, Slamet bisa melihat jelas bagian samping dan teras rumah tetangganya itu.

Saat Slamet sedang memanggil ayam-ayamnya, suara langkah kaki menepuk jalan tanah terdengar dari arah gang depan.

Slamet refleks menoleh.

Pak Dani baru saja keluar dari celah jalan setapak di samping rumahnya. Pria itu memakai celana pendek kain dan kaos oblong biasa. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kunci gembok berwarna perak.

Pak Dani berjalan santai menuju pintu depan rumahnya yang masih terkunci gembok besi hitam. Tidak ada gerak-gerik sembunyi-sembunyi. Langkah kakinya tenang dan santai, persis seperti orang yang mau menyiram bunga di halaman.

Slamet memperhatikan dengan teliti.

Pak Dani memasukkan kunci ke lubang gembok besi yang menggantung di selot pintu kayu.

Klek.

Bunyi engsel gembok besi yang terbuka terdengar cukup nyaring di tengah gang yang sepi. Pak Dani melepas gembok itu dengan santai, mengantonginya ke saku celana pendek, lalu mendorong pintu depannya sampai terbuka lebar.

Gembok itu tidak dipasang mati sepanjang hari. Terbukti Pak Dani bisa membukanya kapan saja ia mau dengan sangat mudah.

Dari dalam rumah, aroma harum masakan sayur asam dan ikan asin goreng langsung menyeruak ke luar. Suara kedua anak Pak Dani yang sedang menonton televisi di ruang tengah terdengar jelas. Suasana di dalam rumah itu kelihatan sangat adem dan tertata rapi. Meja makan kayu sederhana berdiri di tengah ruangan, ditudungi kain penutup makanan yang bersih.

Pak Dani berbalik sebentar ke arah dalam rumah. “Bu, Bapak mau buang sampah dulu ke depan ya!” teriaknya pelan dengan nada ramah.

“Iya, Pak! Sekalian bawa ember hitam di samping keran!” balas suara istrinya dari arah dapur.

“Siap, Bu,” jawab Pak Dani.

Pak Dani mengambil ember plastik tempat sampah yang ada di sudut teras depan. Pria itu kemudian melangkah menuju tempat pembuangan sampah sementara yang ada di pinggir jalan gang.

Saat berjalan melintas di depan pekarangan Slamet, Pak Dani menoleh dan tersenyum lebar.

Lihat selengkapnya