Siang hari di RT 04 biasanya diwarnai oleh lalu lalang pedagang keliling. Ada tukang sol sepatu yang memukul-mukul papan kayu kecil, tukang perabot plastik yang memikul dagangannya, hingga penagih cicilan bank keliling yang menaiki sepeda motor dengan knalpot bising.
Bagi rumah warga pada umumnya, pintu depan biasanya dibuka lebar-lebar saat siang hari. Tujuannya sederhana, supaya angin segar bisa masuk dan memudahkan kalau ada tamu atau pedagang yang mau lewat.
Tapi rumah Pak Dani punya pilihannya sendiri.
Pintu depannya lebih sering tertutup rapat dengan gembok besi hitam yang menggantung di selot kayu. Terutama kalau keluarga sedang ingin bersantai di dalam tanpa gangguan dari luar.
Sekitar jam satu siang, seorang pria asing dengan jaket kulit hitam yang agak kusam tampak berjalan menyusuri jalan tanah gang. Di tangannya, pria itu memegang sebuah buku catatan kecil bercover kain dan pulpen murah. Dari penampilannya, semua warga kampung tahu pria itu adalah petugas kuesioner atau penagih bantuan yang sering datang dari luar desa.
Pria berjaket kulit itu berhenti tepat di depan rumah Pak Dani. Ia melihat rumah yang sangat sederhana itu tanpa ada pagar sama sekali di depannya.
Dengan santai, pria asing itu melangkah ke teras rumah Pak Dani yang berlantai semen kasar. Ia berdiri tepat di depan pintu kayu.
Dok! Dok! Dok!
Pria itu mengetuk pintu depan cukup keras dengan buku catatannya.
“Permisi! Selamat siang! Permisi, Pak!” teriak pria itu dengan suara nyaring, khas orang luar yang ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Di dalam rumah, aktivitas keluarga Pak Dani sebenarnya sedang berlangsung biasa. Dari jalan tanah, terdengar jelas suara televisi yang menayangkan acara berita siang, bercampur dengan suara denting sendok dan piring dari meja makan.
Namun, begitu suara gedoran pintu itu terdengar, suasana di dalam rumah mendadak berubah tenang.
Suara volume televisi dari dalam rumah langsung dikecilkan sampai nyaris tidak terdengar. Suara denting piring dan obrolan dari dapur mendadak surut. Rumah itu menjadi sangat hening, seolah-olah penghuninya sedang beristirahat.
Pria berjaket kulit itu mengernyitkan dahi. Ia bingung. Tadi jelas-jelas ada suara orang dan televisi di dalam, tapi kenapa sekarang mendadak sepi?
Ia mundur satu langkah dan baru menyadari keberadaan gembok besi hitam yang menggantung di selot pintu tepat di depan dadanya. Pintu itu terkunci gembok dari luar.