Matahari sore mulai condong ke arah barat, memancarkan sinar hangat yang menimpa pekarangan rumah-rumah di RT 04. Udara yang tadinya panas kini perlahan terasa lebih sejuk.
Pak Slamet sedang duduk bersandar di teras rumahnya sendiri. Di sampingnya ada segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul pelan. Dari posisinya duduk, Slamet punya sudut pandang yang sangat jelas ke arah samping rumah Pak Dani.
Jalan setapak di samping rumah Pak Dani berupa tanah merah sempit, diapit oleh dinding papan rumah dan deretan pohon pisang. Jalan kecil itu menghubungkan halaman depan langsung ke area pintu belakang.
Slamet sebenarnya tidak berniat memata-matai. Tapi karena letak rumah mereka yang bersebelahan, gerakan di sekitar rumah Pak Dani gampang terlihat.
Sekitar jam empat sore, suara engsel kayu terdengar pelan dari arah belakang rumah Pak Dani.
Klek.
Pintu belakang rumah itu terbuka dari dalam. Pak Dani keluar dari sana memakai celana panjang kusam dan kaos oblong polos. Di bahunya melingkar sebuah tas slempang kecil dari kain. Penampilannya rapi, siap untuk bepergian.
Pak Dani tidak langsung berjalan ke depan. Pria itu berdiri di ambang pintu belakang, berbicara ke arah dalam dapur.
“Bu, Bapak berangkat ke toko material sebentar ya! Mau beli paku sama cat kaleng!” seru Pak Dani dengan suara pelan tapi jelas.
“Iya, Pak! Hati-hati di jalan!” balas suara istrinya dari dalam dapur.
“Siap, Bu. Pintunya diselot dari dalam ya,” kata Pak Dani mengingatkan.
Pak Dani kemudian menarik daun pintu kayu belakang hingga rapat. Dari dalam rumah, terdengar suara gesekan kayu dan besi kecil saat istrinya memasang selot pintu belakang rapat-rapat dari dalam. Pintu belakang itu tidak dipasangi gembok dari luar, murni mengandalkan selot kunci dari dalam.