Setiap pagi sekitar jam setengah tujuh, jalan tanah di RT 04 selalu diramaikan oleh anak-anak sekolah. Ada yang berjalan bergerombol sambil bercanda, ada yang diantar orang tuanya menaiki sepeda motor, dan ada juga yang berlari kecil karena takut terlambat masuk.
Di tengah kesibukan pagi itu, rumah Pak Dani yang sangat sederhana juga punya ritmenya sendiri.
Pak Slamet, yang pagi itu sedang menyapu daun-daun kering di pekarangan rumahnya, memperhatikan rumah Pak Dani. Dari posisinya menyapu, Slamet bisa melihat teras depan sekaligus celah samping rumah tetangganya itu.
Dari balik dinding rumah, terdengar suara tawa renyah anak-anak. Tidak ada nada ketakutan, tidak ada bentakan dari orang tua, dan tidak ada tanda-tanda anak yang sedang tertekan atau dikurung.
Suara Pak Dani terdengar pelan dan hangat dari balik dinding. “Ayo, diminum dulu susunya. Tasnya jangan sampai ada buku yang ketinggalan.”
“Sudah semua, Pak!” sahut suara anak laki-lakinya yang paling tua dengan mantap.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki menepuk jalan tanah terdengar dari celah samping rumah Pak Dani.
Slamet menoleh. Pak Dani baru saja keluar dari celah jalan setapak di samping rumahnya, berjalan dari arah pintu belakang. Di tangan kanannya, Pak Dani memegang kunci gembok berwarna perak.
Pak Dani berjalan santai ke teras depan. Ia memasukkan kunci ke gembok besi hitam yang menggantung di selot pintu kayu.
Klek.
Gembok besi itu terbuka. Pak Dani melepasnya, lalu mendorong pintu depan rumahnya sampai terbuka lebar.
“Dimas, Rara, ayo keluar dari depan!” panggil Pak Dani ramah dari teras.
Dari dalam rumah, dua anak Pak Dani muncul satu per satu melangkah melewati pintu depan yang sudah terbuka lebar.