Malam hari di RT 04 selalu punya ketenangannya sendiri. Sinar lampu jalan yang remang-remang menerangi jalan tanah gang, sementara suara jangkrik bersahut-sahutan dari arah pekarangan kosong.
Pos ronda kayu yang berdiri di pertigaan gang menjadi satu-satunya tempat yang paling ramai. Sebuah bambu kentongan besar tergantung di tiang depan, dan di meja kayu panjang terhidang teko kaleng berisi kopi hitam hangat serta beberapa cangkir kaleng yang sudah agak berkarat.
Malam itu, jadwal ronda diisi oleh Pak RT, Pak Slamet, dan tiga warga lainnya, termasuk Pak Tarjo, seorang pria paruh baya yang terkenal lantang dan gemar memperhatikan urusan orang lain.
Slamet sedang duduk bersila sambil mengupas kacang tanah rebus ketika Tarjo datang membawa senter besar di tangannya.
"Selamat malam, semuanya," sapa Tarjo sambil melempar senternya ke atas meja kayu.
"Malam, Jo," balas Pak RT yang sedang menuangkan kopi hangat ke cangkirnya. "Tepat waktu kamu. Langsung ambil kopi sana."
Tarjo duduk di bangku kayu, menyandarkan punggungnya ke tiang pos. Ia menyulut sebatang rokok kretek, lalu menghembuskan asapnya tinggi-tinggi ke udara malam.
Mata Tarjo melirik ke arah lorong gang yang menuju ke rumah Pak Dani. Dari pos ronda, rumah sederhana itu memang tidak kelihatan langsung, tapi topik tentang rumah itu rupanya sudah mengendap di kepala Tarjo sejak sore.
"Pak RT," panggil Tarjo membuka percakapan. "Saya mau tanya sesuatu."
"Tanya apa, Jo? Soal iuran ronda?" jawab Pak RT santai.
"Bukan, bukan soal iuran," kata Tarjo sambil membetulkan posisi duduknya. Ia memajukan badannya ke depan meja, membuat suasana di pos ronda mendadak agak serius. "Ini soal Pak Dani. Mumpung kita lagi kumpul begini."
Slamet yang sedang mengunyah kacang langsung menoleh. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Kenapa lagi sama Pak Dani?" tanya Pak RT, menghentikan seruputan kopinya.
"Begini loh, Pak RT," kata Tarjo dengan nada suara yang sengaja diturunkan setengah berbisik. "Bukan cuma soal pintu depannya yang sering digembok dari luar. Tapi ada satu hal lagi yang menurut saya makin hari makin mengganjal di pikiran."