Pagi hari di RT 04 selalu ditandai dengan suara bising klakson motor bebek yang dimodifikasi dengan keranjang bambu di bagian belakangnya. Itu adalah motor milik Mang Udin, tukang sayur keliling langganan warga kampung yang biasa mangkal di setiap sudut gang untuk menjajakan dagangannya.
Di atas keranjang bambu itu tertata rapi berbagai macam sayuran segar. Ada seikat bayam hijau, kangkung segar, kubis putih, tomat merah ranum, tahu putih, tempe bungkus daun pisang, hingga aneka bumbu dapur yang digantung di pinggir keranjang.
Sepeda motor Mang Udin berhenti tepat di depan rumah Pak Dani. Mesin motornya dimatikan, meninggalkan bunyi deru knalpot yang perlahan-lahan senyap.
Mang Udin tidak langsung membunyikan klakson panjang seperti biasa. Ia tahu kebiasaan rumah di depannya itu agak berbeda dari rumah warga lainnya.
Tidak lama setelah motor itu berhenti, suara gesekan kayu terdengar dari arah jendela samping rumah Pak Dani.
Klek.
Jendela kayu terbuka pelan. Wajah istri Pak Dani muncul dari balik kaca jendela dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya. Rambutnya disanggul rapi ke belakang, dan ia memakai daster rumahan berwarna hijau muda yang bersih.
"Eh, Mang Udin. Pagi amat hari ini," sapa istri Pak Dani dengan suara renyah.
Mang Udin mendongak dan membalas senyuman itu sambil melepaskan helmnya yang sudah agak kusam. "Iya, Bu Dani. Dari pasar tadi agak lancar jalannya. Mau belanja apa hari ini?"
"Sebentar ya, Mang. Saya ambil dompet dulu," kata istri Pak Dani.
Tidak butuh waktu lama, istri Pak Dani kembali ke dekat jendela sambil membawa dompet kain kecil.
"Beli bayam dua ikat, Mang Udin. Sama tahu putihnya satu bungkus, terus cabai merah seperempat kilo," pesan istri Pak Dani dengan lancar dan sangat teratur, seolah-olah ia sudah punya daftar belanjaan yang matang di kepalanya.
Mang Udin sigap mengambil pesanan tersebut dari keranjang bambunya. Ia memasukkan sayuran segar itu ke dalam kantong plastik hitam bersih, lalu menimbangnya sebentar di timbangan gantung kecil miliknya.