BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #8

Kemunculan Provokator

Di sudut RT 04, agak jauh dari rumah Pak Dani, berdiri sebuah rumah papan yang kondisinya cukup prihatin. Atap sengnya sudah banyak yang berlubang dan ditambal menggunakan potongan plastik bekas. Di teras rumah itu, duduk seorang pria paruh baya bernama Tarjo.

Pagi itu, wajah Tarjo kelihatan sangat kusam. Rambutnya yang mulai beruban berantakan tidak tersisir, dan mata merahnya menandakan ia tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.

Di meja kayu lapuk di depannya, menumpuk beberapa lembar surat tagihan. Ada tagihan listrik yang sudah dua bulan menunggak, catatan utang beras dari warung kelontong, hingga surat tagihan cicilan sepeda motor milik anaknya yang sebentar lagi akan ditarik oleh pihak leasing jika tidak segera dicicil.

Tarjo memegang kepalanya yang terasa berat. Sebagai seorang buruh harian lepas yang pekerjaannya tidak menentu, hidup Tarjo selalu dikejar-kejar oleh beban ekonomi. Kalau sedang ada panggilan borongan bangunan atau angkut barang di pasar, ia bisa membawa pulang sedikit uang. Tapi kalau sedang sepi seperti beberapa minggu terakhir ini, dapurnya benar-benar terancam tidak bisa mengepul.

Saat Tarjo sedang mengusap wajahnya yang lelah, dari arah jalan gang melintas Pak Dani.

Pak Dani berjalan santai membawa kantong plastik berisi beberapa kaleng cat kecil dan kuas baru. Pria itu baru saja kembali dari toko bangunan di depan gang. Penampilannya sangat bersih, menggunakan kaos oblong polos abu-abu dan celana kain yang rapi. Wajahnya kelihatan segar, tenang, dan tidak memancarkan beban pikiran sama sekali.

Saat melintas di depan rumah Tarjo, Pak Dani menoleh dan menganggukkan kepala dengan senyum ramahnya yang biasa.

"Selamat pagi, Pak Tarjo," sapa Pak Dani dengan suara yang renyah dan sopan.

Tarjo menatap Pak Dani dari teras rumahnya. Senyuman Pak Dani yang tulus dan ramah itu bukannya dibalas dengan kehangatan oleh Tarjo, melainkan disambut dengan tatapan mata yang penuh rasa tidak suka dan kejengkelan yang mendalam.

Tarjo cuma berdeham pelan di tenggorokannya tanpa membalas sapaan itu.

Pak Dani yang tidak merasa curiga apa-apa tetap melanjutkan langkah kakinya secara santai menuju ke rumahnya sendiri.

Mata Tarjo terus mengawasi punggung Pak Dani yang makin menjauh. Di dalam dada Tarjo, timbul sebuah rasa hangat yang membakar, yaitu rasa iri hati yang sangat besar.

Bagi seorang pria yang setiap hari harus membanting tulang, mandi keringat, dan dikejar-kejar utang seperti Tarjo, melihat tetangganya bisa hidup tenang tanpa pernah terlihat bekerja keras adalah sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan mata.

Lihat selengkapnya