BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #9

Kasak-kusuk Tukang Sayur

Matahari baru saja merekah di ufuk timur, memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah daun pohon mangga di sepanjang jalan tanah RT 04. Udara pagi masih terasa sangat segar, tetapi suasana di persimpangan gang dekat rumah Pak Slamet sudah mulai menghangat oleh kerumunan warga.

Suara klakson nyaring khas sepeda motor Mang Udin memecah keheningan pagi. Sepeda motor bebek yang dilengkapi dua keranjang bambu besar di jok belakangnya itu berhenti tepat di tempat biasa ia mangkal. Dalam hitungan detik, beberapa ibu rumah tangga melangkah keluar dari rumah masing-masing sambil membawa wadah plastik dan dompet kain di tangan.

Di antara kerumunan itu, Bu Sumi berdiri paling depan. Wajahnya kelihatan sangat bersemangat, seolah-olah ada beban pembicaraan yang sudah tidak sabar ingin ia keluarkan dari tenggorokannya. Di sebelahnya ada Mbak Yanti, serta dua warga perempuan lainnya yang ikut memilah-milah sayuran segar di atas keranjang Mang Udin.

"Mulai lagi nih harga cabai rawit naik seribu," keluh Mbak Yanti sambil mengambil seperempat kilo cabai merah yang warnanya masih segar.

"Ya namanya dari pasar induknya sudah naik, Mbak Yanti," sahut Mang Udin ramah sambil membetulkan letak timbangan gantungnya. "Tapi tenang saja, kualitas sayur hari ini dijamin bagus semua."

Bu Sumi yang sedang memilih seikat kangkung tiba-tiba menoleh ke arah ujung gang. Matanya menangkap sosok Pak Dani yang baru saja keluar dari celah jalan setapak samping rumahnya. Pak Dani melangkah ke teras depan, membuka gembok besi hitam di pintu kayu menggunakan kunci peraknya, lalu membiarkan kedua anaknya: Dimas dan Rara, keluar dengan seragam sekolah yang sangat rapi.

Kedua anak itu mencium tangan Pak Dani dengan santai dan sopan, lalu berjalan riang menyusuri jalan tanah gang menuju sekolah dasar. Sepatu hitam mereka mengilat bersih, dan tas ransel yang mereka gendong kelihatan masih sangat bagus.

Pak Dani yang berdiri di teras depan sempat melambaikan tangan ke arah anak-anaknya, lalu mengunci kembali gembok besi hitam di selot pintu depannya, sebelum akhirnya berjalan melipir kembali ke dalam rumah lewat jalur samping.

Bu Sumi memperhatikan pemandangan itu tanpa berkedip. Begitu sosok kedua anak Pak Dani melintas di dekat kerumunan tukang sayur, Bu Sumi langsung memajukan badannya ke arah Mbak Yanti dan Mang Udin.

"Coba perhatikan baik-baik anak-anaknya Pak Dani itu," bisik Bu Sumi dengan nada suara yang sengaja dipelankan tapi cukup nyaring untuk didengar semua orang di situ.

Lihat selengkapnya