Sentimen negatif yang ditiupkan oleh Tarjo di pos ronda dan Bu Sumi di tukang sayur akhirnya sampai juga ke telinga Pak RT. Sebagai penanggung jawab lingkungan di RT 04, Pak RT merasa tidak bisa lagi membiarkan rumor liar berkeliaran tanpa kepastian. Ia tidak ingin ketentraman kampungnya rusak gara-gara desas-desus yang tidak jelas kebenarannya.
Sore itu, Pak RT memutuskan untuk melakukan penyelidikan kecil-kecilan secara diam-diam bersama Pak Slamet. Mereka berpikiran dingin dan ingin memastikan fakta yang sebenarnya sebelum warga mengambil tindakan yang tidak diinginkan.
Langkah pertama yang dilakukan Pak RT adalah mendatangi rumah Bu Tejo, pemilik warung kelontong terbesar di kampung yang juga bertindak sebagai agen pembayaran tagihan dan pencatatan penerima bantuan sosial.
Pak RT dan Slamet duduk di kursi kayu warung Bu Tejo yang sedang sepi pembeli.
"Mbak Tejo," panggil Pak RT membuka percakapan. "Saya mau tanya sedikit soal data warga. Ini urusan penting sebagai pengurus RT."
Bu Tejo yang sedang merapikan botol minyak goreng menoleh. "Tanya apa, Pak RT? Soal beras bantuan ya?"
"Bukan," jawab Pak RT sambil merendahkan suara. "Soal Pak Dani sekeluarga. Apa selama ini Pak Dani atau istrinya pernah mengajukan bantuan sosial, pinjaman beras, atau punya utang catat di warung Mbak Tejo?"
Bu Tejo langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Sama sekali tidak pernah, Pak RT! Kalau warga lain banyak yang utang beras atau nunggak bayar rokok, keluarga Pak Dani itu paling tertib. Tiap kali butuh apa-apa, istrinya beli tunai lewat jendela. Uangnya selalu pas, tidak pernah kurang sepeser pun."