Kegelapan malam di RT 04 merayap lambat membawa udara dingin yang menusuk tulang. Jam di dinding pos ronda menunjukkan pukul satu malam. Lampu-lampu teras rumah warga sudah banyak yang dipadamkan, menyisakan gang-gang sempit yang remang dan sunyi.
Di belakang pos ronda, tiga sosok pria berdiri berdekatan di balik bayangan pohon nangka. Tarjo berdiri di tengah, diapit oleh Karso dan seorang pemuda kampung bernama Dedi yang terkenal sering keluyuran malam tanpa tujuan jelas.
"Kamu yakin mau melakukan ini, Jo?" bisik Karso ragu. Matanya celingukan menatap ke sekeliling gang yang sepi. "Nanti kalau ketahuan Pak RT atau Pak Slamet bagaimana?"
Tarjo menepis lengan Karso dengan cengkeraman kuat. "Kamu penakut sekali, So! Pak RT sudah tidur nyenyak di rumahnya, Slamet juga paling sudah ngorok. Ini waktunya kita kasih pelajaran buat si Dani biar dia tidak sok tenang terus di dalam rumahnya!"
"Pelajaran bagaimana maksudmu?" tanya Dedi sambil memainkan katapel kayu di tangannya.
"Orang itu pura-pura tidak mendengar gosip warga," ujar Tarjo dengan nada menggeram pelan. "Dia merasa aman di dalam rumah karena pintu depannya digembok dari luar. Kita buktikan kalau gembok besi itu tidak bisa melindungi dia dari kita!"
Tarjo merogoh saku celana kerjanya yang kusam, lalu mengeluarkan beberapa butir kerikil tajam berukuran sebesar genggaman anak-anak. Ia membagikan kerikil itu kepada Karso dan Dedi.
"Lempar ke atap seng rumah bagian belakangnya," perintah Tarjo dengan senyum licik. "Jangan sampai kena kaca, nanti pecah dan bikin heboh. Cukup bikin suara gaduh di atap biar mereka ketakutan dan keluar."
Dedi terkekeh pelan. Tanpa menunggu lama, pemuda itu merentangkan karet katapelnya, membidik ke arah atap seng rumah Pak Dani yang berdiri membisu sekitar dua puluh meter di depan mereka.
TAK!
Suara benturan keras kerikil mengenai seng tua bergema nyaring di tengah kesunyian malam. Suara itu disusul oleh gemeretak kerikil yang menggelinding turun di atas permukaan seng.