BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #13

Ketenangan yang Tak Tergoyahkan

Di dalam rumah, cahaya lilin kecil yang berdiri di atas piring seng meliuk-liuk pelan ditiup angin malam yang masuk dari celah ventilasi. Pendar cahaya oranye itu menerangi ruang tengah yang sederhana.

Ketika sakelar listrik dimatikan secara tiba-tiba dari luar dan suara lemparan batu menghantam atap seng, kedua anak Pak Dani: Dimas dan Rara, sempat terbangun dari tidurnya dengan mata terbelalak kaget.

Rara yang berusia paling kecil langsung memeluk lengan ibunya yang duduk di tepi kasur busa.

"Ibu... ada suara apa di atap? Kok lampunya mati?" tanya Rara dengan suara bergetar pelan.

Istri Pak Dani mengelus rambut anak perempuannya dengan penuh kasih sayang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau emosi meledak-ledak. Ia tersenyum lembut, lalu mencium kening Rara.

"Tidak apa-apa, Nak. Cuma angin malam yang menjatuhkan ranting pohon ke atap. Lampunya cuma mati sebentar," kata istrinya dengan nada suara yang sangat tenang dan menyejukkan.

Pak Dani yang baru saja menyalakan lilin kedua berjalan mendekati bale-bale kayu tempat anak-anaknya berkumpul. Ia meletakkan piring lilin itu di atas meja kecil, lalu duduk bersila di samping Dimas.

Dimas yang sudah agak besar menatap ayahnya dengan pandangan penuh tanya. "Bapak, itu bukan ranting pohon kan? Dimas dengar ada suara orang jalan di samping rumah."

Lihat selengkapnya