Matahari pagi baru saja menampakkan sinarnya, mengusir sisa-sisa embun dingin yang menempel di atap seng dan daun-daun pisang di RT 04. Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama karena gosip baru yang jauh lebih liar dan destruktif mulai berembus kencang dari mulut ke mulut di antara warga.
Kegagalan aksi teror kecil di malam sebelumnya: ketika Tarjo dan Dedi memadamkan sakelar listrik serta melempar atap dengan kerikil namun sama sekali tidak membuahkan kepanikan dari keluarga Pak Dani, bukan membuat kelompok Tarjo jera. Sebaliknya, hal itu justru melahirkan paranoia dan delusi yang makin parah di dalam pikiran mereka.
Di sudut warung kelontong Bu Tejo, Tarjo berdiri dengan muka masam sambil memegang segelas kopi hitam panas yang baru diseduh. Di sekelilingnya, beberapa warga yang sudah terprovokasi ikut mendengarkan ocehannya dengan saksama, termasuk Bu Sumi dan Pak Karso.
"Kalian tahu sendiri kan apa yang terjadi semalam?" buka Tarjo dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar semua orang di sekitar warung. "Rumahnya kita matikan listriknya, atapnya kita lempar batu, tapi orangnya sama sekali tidak keluar! Tidak teriak, tidak minta tolong, tidak marah-marah!"
Bu Sumi mengerutkan keningnya, memegang dagunya dengan gaya penuh curiga. "Nah, itu dia yang dari kemarin saya pikirkan, Mas Tarjo. Orang normal mana yang rumahnya digelapkan tengah malam tapi anteng-anteng saja? Kalau bukan karena dia punya ilmu kebal, ya pasti karena di dalam rumah itu dia lagi sibuk menyembunyikan sesuatu yang mahal!"
"Betul sekali!" sahut Karso mengangguk-angguk setuju, mendukung opini Tarjo demi menutupi rasa bersalahnya ikut melempar batu semalam. "Kalau orang jujur yang listriknya tiba-tiba mati karena korsleting atau ulah orang usil, pasti dia keluar marah-marah sambil bawa senter. Lah ini? Malah asyik nyalakan lilin seolah-olah tidak ada apa-apa. Jelas banget kalau keluarga itu punya rahasia busuk!"
Bu Tejo yang sedang menyusun botol kecap di rak etalase ikut menoleh. Sebagai pemilik warung yang mengamati dinamika warga, ia merasa arah pembicaraan ini sudah mulai melampaui batas kewajaran.
"Jangan sembarangan ngomong, Bu Sumi, Mas Tarjo," tegur Bu Tejo dengan nada memperingatkan. "Bisa jadi Pak Dani itu memang orangnya sabar. Tidak semua orang suka ribut-ribut kalau ada masalah kecil."
"Sabar apa, Mbak Tejo?!" potong Tarjo dengan nada tinggi. "Sabar itu ada batasnya. Ini bukan masalah sabar lagi, tapi masalah asal-usul harta kekayaan mereka! Pak RT kemarin memang bilang tidak ada utang dan tidak ada bansos. Tapi Pak RT kan tidak memeriksa seluruh isi rumahnya secara teliti! Bisa jadi, harta yang dipakai buat hidup enak selama dua tahun ini adalah hasil dari uang haram!"