Malam kembali merayap menutupi langit RT 04. Suasana malam itu terasa jauh lebih pengap dan mencekam dibandingkan malam-malam sebelumnya. Isu tentang uang haram dan simpanan kejahatan yang ditiupkan oleh Tarjo di warung kelontong siang tadi telah menyebar luas ke seluruh penjuru kampung, memicu rasa penasaran yang sudah berubah menjadi obsesi gelap di benak beberapa warga.
Sekitar pukul sebelas malam, ketika suasana gang benar-benar sepi dan gelap gulita, tiga sosok bayangan manusia bergerak mengendap-endap menyusuri jalan setapak di samping rumah Pak Dani.
Mereka adalah Tarjo, Karso, dan Dedi. Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa serakah membuat mereka nekat melakukan tindakan melanggar hukum: mengintai dan memata-matai rumah tetangga secara ilegal di tengah malam.
"Pelan-pelan langkah kalian, jangan sampai berisik," bisik Tarjo dengan suara tertahan sambil memegang senter kecil berbalut plastik hitam di tangannya.
Mereka merayap merapat ke dinding papan rumah Pak Dani di bagian samping, tepat di bawah jendela kecil tempat istri Pak Dani biasa menerima belanjaan sayur dari Mang Udin. Rumah itu tampak tenang, lampu ruang tengahnya menyala lembut, memancarkan bias cahaya kuning hangat melalui celah-celah papan dinding yang agak renggang.
"Bagaimana cara kita lihat ke dalam, Jo?" bisik Dedi dengan napas memburu karena gugup bercampur takut ketahuan.
"Naik ke bangku kayu ini," jawab Tarjo sambil menunjuk sebuah bangku plastik kecil yang biasa dipakai untuk duduk di teras samping. "Lewat celah ventilasi atas di dekat kusen jendela. Di situ posisinya pas buat ngintip ke ruang tengah."
Tanpa membuang waktu, Karso yang memiliki badan paling tinggi bertindak lebih dulu. Dengan hati-hati, ia memanjat bangku plastik tersebut, berjinjit, lalu menempelkan wajahnya rapat-rapat ke celah ventilasi kayu di bagian atas dinding rumah Pak Dani.
Jantung Karso berdegup kencang. Di dalam pikirannya yang sudah dipenuhi oleh doktrin Tarjo, ia membayangkan akan melihat tumpukan uang tunai dalam karung, brankas besi besar berisi barang curian, atau mungkin peralatan ritual aneh yang disembunyikan di balik dinding rumah sederhana itu.
Karso mengatur napasnya agar tidak berisik, lalu melongokkan matanya menembus celah ventilasi yang sempit.
Suasana di dalam ruang tengah rumah itu tampak sangat jelas dari posisi pengintaian Karso. Tidak ada brankas besi. Tidak ada karung uang tunai. Tidak ada barang-barang mewah atau perhiasan gemerlap yang berserakan seperti yang digembar-gemborkan oleh Tarjo.