Pagi hari berikutnya, suasana di RT 04 terasa sangat aneh dan tidak wajar. Gosip yang disebarkan oleh Tarjo setelah aksi pengintaian malam buta kemarin telah berputar cepat seperti badai di padang pasir. Meskipun Tarjo dan Karso sebenarnya tidak menemukan satu pun bukti adanya uang haram atau barang curian di dalam rumah Pak Dani, mereka justru memutarbalikkan kenyataan tersebut demi menjaga gengsi dan ego kelompok mereka.
Di pos ronda yang terletak di pertigaan gang, Tarjo berdiri di hadapan beberapa warga yang sengaja ia kumpulkan, termasuk Dedi dan beberapa buruh harian lainnya. Wajah Tarjo tampak serius, memasang mimik muka seolah-olah ia baru saja menemukan rahasia terbesar dan paling berbahaya di muka bumi.
"Dengar ya, bapak-bapak sekalian!" seru Tarjo dengan suara lantang penuh penekanan. "Semalam saya sama Karso dan Dedi sudah membuktikan sendiri dengan mata kepala kami waktu mengintip ke dalam rumah si Dani."
Pak Karso yang berdiri di samping Tarjo hanya bisa menunduk diam, merasa tidak enak karena ia tahu persis bahwa apa yang dilihatnya semalam hanyalah keluarga Pak Dani yang sedang makan sayur bayam. Namun, karena sudah terlanjur terseret dalam pengaruh Tarjo, Karso memilih diam dan tidak berani membantah.
"Bagaimana, Jo? Apa benar ada uang haram atau brankas di dalam?" tanya seorang warga penasaran bernama Pak Joko.
Tarjo mendengus sinis. "Justru itu masalahnya! Di ruang tengah memang kelihatan biasa saja. Tapi itu cuma akal-akalan mereka buat mengelabui kita! Mereka sengaja makan pakai tempe dan sayur bayam biar kita mengira mereka orang miskin dan jujur. Padahal, di ruangan belakang yang tidak kelihatan dari jendela, di situlah tempat mereka menyimpan seluruh harta hasil kejahatan dan barang-barang terlarang!"
Kebohongan yang diucapkan Tarjo dengan penuh percaya diri itu ditelan begitu saja oleh warga yang sudah terlanjur dikuasai oleh rasa iri dan prasangka buruk. Paranoia kolektif telah merasuk begitu dalam ke dalam kepala orang-orang kampung, membuat akal sehat mereka tertutup rapat oleh kebencian yang tidak beralasan.
"Parah banget kalau begitu!" sahut Dedi memanas-manasi suasana. "Berarti selama ini kita ditipu mentah-mentah sama pendatang sok suci itu! Dia menganggap kita semua bodoh!"