BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #17

Pintu Belakang Makin Rapat

Di dalam rumahnya yang sederhana, Pak Dani berdiri di dekat jendela samping sambil menurunkan tangan pelan dari tirai tipis yang baru saja ia lepaskan. Ia tidak perlu keluar rumah atau memasang alat penyadap untuk mengetahui apa yang sedang diteriakkan oleh Tarjo di pos ronda tadi pagi. Suara bising dan gelombang kebencian yang mengalir di udara kampung sudah cukup memberikan gambaran jelas tentang seberapa jauh paranoia warga telah meracuni pikiran mereka.

Istri Pak Dani duduk di kursi kayu ruang tengah, melipat pakaian terakhir dengan gerakan tangan yang tetap tenang dan teratur. Meskipun raut wajahnya tidak menunjukkan kepanikan yang berlebihan, ada garis-garis kecemasan yang halus di keningnya.

"Bapak..." panggil istrinya pelan sambil meletakkan tumpukan pakaian bersih ke dalam keranjang. "Tadi saya dengar suara teriakan dari pos ronda. Orang-orang di luar tampaknya sudah benar-benar marah. Apa tidak sebaiknya kita bersiap-siap atau memberitahu pihak berwenang?"

Pak Dani berbalik badan, melangkah mendekati istrinya, lalu duduk di kursi sebelah dengan senyuman teduh yang tidak pernah luntur dari wajahnya.

"Ibu tenang saja," kata Pak Dani dengan suara lembut dan menyejukkan. "Mereka sedang marah bukan karena kita berbuat salah kepada mereka, tapi karena mereka sedang marah pada nasib hidup mereka sendiri. Kita hanya kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah, menjadi cermin tempat mereka melampiaskan segala keputusasaan."

"Tapi situasi di luar sudah tidak sehat, Pak," lanjut istrinya dengan nada cemas. "Tadi siang waktu saya mengintip dari jendela dapur, ada beberapa anak muda yang lewat sambil menatap rumah kita dengan sorot mata penuh permusuhan. Mereka bahkan meludahi jalanan di depan rumah kita."

Lihat selengkapnya