BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #18

Rapat Warga yang Memanas

Malam kian larut di RT 04, tetapi ruang tamu rumah Pak RT justru dipadati oleh warga yang berdesakan. Udara di dalam ruangan berdinding cat hijau kusam itu terasa sangat pengap dan membakar, dipenuhi bau keringat buruh, asap rokok kretek yang membumbung tebal, serta dengung bisikan ketidakpuasan yang terus bersahut-sahutan.

Pak RT duduk di balik meja kayu tua dengan posisi canggung. Di sebelahnya, Pak Slamet duduk bersedekap dengan wajah mengeras, matanya menatap tajam ke arah warga yang memenuhi ruangan. Sementara itu, di barisan terdepan, Tarjo berdiri paling lantang bersama Bu Sumi, Pak Karso, Dedi, dan puluhan warga lainnya yang sudah terlanjur termakan hasutan.

"Tenang semuanya! Harap tenang dulu!" seru Pak RT sambil memukul meja kayu menggunakan telapak tangannya untuk menertibkan suasana yang riuh.

"Bagaimana bisa tenang, Pak RT?!" potong Tarjo dengan suara menggelegar, sengaja memotong ucapan pimpinan RT tersebut. "Kampung kita ini sudah tidak aman! Ada orang asing yang tinggal dua tahun di sini tanpa pekerjaan jelas, menyembunyikan rumahnya di balik gembok besi dari luar, dan sekarang makin bertingkah! Pintu belakangnya ikut dikunci rapat, jendelanya ditutupi triplek! Mau sampai kapan Pak RT berdiam diri melihat ancaman di depan mata ini?!"

Bu Sumi menimpali dari barisan belakang dengan nada histeris. "Betul kata Mas Tarjo! Anak-anak saya sekarang takut kalau lewat jalan samping rumah itu! Orang kalau hidupnya jujur dan bersih tidak mungkin mengisolasi diri seperti orang kesetanan begitu! Jangan-jangan di dalam sana memang ada ruang rahasia tempat menimbun harta haram atau barang terlarang!"

Suara sorakan warga mendadak pecah di dalam ruangan. Beberapa orang memukul-mukul dinding papan rumah Pak RT untuk mengekspresikan emosi mereka yang sudah tersulut di titik tertinggi.

Pak RT mengusap dahi dan lehernya yang dibasahi keringat dingin. Ia merasa sangat tertekan oleh kepungan massa yang sudah kehilangan nalar sehat ini.

Lihat selengkapnya