Rapat warga yang berlangsung panas di rumah Pak RT berakhir menjadi sebuah konvoi kegilaan malam yang sangat mencekam. Sekelompok warga yang tersulut emosi berjalan berbondong-bondong menyusuri jalan tanah gang RT 04 menuju ke arah rumah Pak Dani.
Suasana malam yang biasanya sunyi dan damai mendadak berubah menjadi mengerikan. Bayangan-bayangan hitam warga berayun liar di atas tanah, terpantul oleh pendar cahaya kuning dari beberapa obor bambu yang dinyalakan dan diusung tinggi-tinggi oleh pemuda kampung. Kobaran api dari obor-obor itu menimbulkan asap tipis berbau minyak tanah yang menyeruak di udara malam.
Di garis depan rombongan, Tarjo berjalan memimpin dengan langkah lebar dan penuh percaya diri. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pemotong besi berukuran besar yang biasa dipakai proyek bangunan, sebuah alat berat dari besi kokoh dengan rahang baja yang tajam, siap digunakan untuk menghancurkan gembok besi hitam di pintu depan rumah Pak Dani.
Di belakang Tarjo, ada Dedi yang membawa linggis tebal, Pak Karso yang berjalan dengan raut ragu namun terikat oleh tekanan kelompok, serta puluhan warga laki-laki dan perempuan yang berbaris rapat bagaikan gelombang massa yang siap menerjang.
Pak RT berjalan tepat di samping Tarjo dengan wajah pucat dipenuhi rasa cemas yang amat sangat. Di sebelah kanan Pak RT, Slamet berjalan dengan muka masam dan kedua tangan terkepal rapat di dalam saku celananya. Slamet sengaja tetap ikut dalam rombongan bukan untuk mendukung aksi liar tersebut, melainkan untuk memastikan keselamatan keluarga Pak Dani jika situasi berujung pada tindak kekerasan fisik.
"Tarjo, simpan pemotong besi itu di belakangmu!" tegur Pak RT dengan nada menekan saat mereka makin dekat dengan pekarangan sasaran. "Kita ke sana untuk berbicara ramah dan minta penjelasan, bukan untuk bertindak seperti gerombolan perampok!"