Lautan manusia yang mengepung teras rumah Pak Dani makin tidak terkendali. Cahaya oranye dari obor bambu menerangi halaman rumput yang kini rusak terinjak-injak oleh sepatu dan sandal warga. Asap hitam berjelut perlahan membumbung tinggi, menempel di langit-langit teras semen yang kusam.
"Dani! Buka pintunya!" teriak Bu Sumi dari barisan tengah warga dengan nada suara melengking. "Tunjukkan pada kita semua apa isi rumahmu kalau kamu memang bukan penjahat!"
"Iya! Buka pintunya!" bersahut-sahutan warga lainnya menimpali seruan tersebut, memukul-mukul pagar kayu dan tiang teras.
Pak RT melangkah maju menaiki tangga teras, berdiri di sebelah Tarjo yang masih memegang pemotong besi besar dengan raut wajah penuh kemenangan. Pak RT memegang selot pintu kayu yang terkunci oleh gembok besi hitam itu, lalu mengetuk daun pintu papan tersebut beberapa kali menggunakan buku jari tangannya.
"Pak Dani... Ini saya, Pak RT," panggil Pak RT dengan nada suara berusaha sebisa mungkin dipelankan walau sedikit bergetar karena gugup. "Pak Dani, di luar sini warga sudah sangat banyak yang berkumpul. Mereka minta penjelasan langsung dari Pak Dani soal kondisi rumah ini. Tolong buka pintunya sebentar, Pak. Bicara baik-baik dengan kami agar suasana tidak makin keruh."
Suasana di pekarangan mendadak hening selama beberapa detik. Seluruh warga menahan napas mereka, mengarahkan pandangan mata dengan penuh konsentrasi ke arah daun pintu kayu tua itu, menunggu adanya pergerakan atau suara selot kunci bergeser dari dalam.
Di dalam ruang tengah rumah yang redup, Pak Dani berdiri sangat tenang di dekat meja makan. Ia mengenakan sarung kusam dan kemeja polos yang rapi. Di sebelahnya, istrinya memeluk kedua anak mereka di atas tikar. Anak-anak itu tidak menangis, hanya menatap ke arah pintu depan dengan pandangan mata yang polos dan tenang karena sudah dikuatkan oleh kedua orang tua mereka.
Pak Dani menepuk bahu istrinya pelan, memberikan senyuman ramah yang sangat menyejukkan. Ia kemudian melangkah pelan mendekati pintu depan.
Pak Dani tidak membuka pintu, juga tidak menggeser selot pengunci tambahan. Ia hanya berdiri rapat di balik daun pintu kayu tersebut, lalu berbicara dengan nada suara yang sangat jernih, tenang, dan ramah, suara yang sama persis seperti yang biasa ia gunakan saat menyapa tetangga dari balik jendela di pagi hari.