Suasana di teras rumah Pak Dani mendadak mencekam ketika Tarjo memposisikan rahang pemotong besi besar tepat pada tangkai gembok besi hitam yang menggantung di selot pintu depan. Pendar cahaya oranye dari obor bambu yang dipegang warga memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding papan. Bau minyak tanah beradu tajam dengan bau keringat puluhan warga yang berdesakan di pekarangan sempit itu.
Pak RT mencoba melangkah maju untuk memegang lengan Tarjo. "Tarjo, tunggu dulu! Jangan main potong begitu saja! Kita ini warga beradab!"
Namun, sebelum tangan Pak RT menyentuh bahunya, Tarjo menghentakkan badannya dengan kasar. "Sudah terlambat, Pak RT! Orang ini sengaja mengejek kita dari dalam! Kalau gembok ini tidak dihancurkan sekarang, sampai kapan pun warga RT 04 akan terus ditipu oleh ketenangan palsunya!"
Slamet yang berdiri di samping Pak RT berusaha menerobos, tetapi dua pemuda kampung yang termakan hasutan Tarjo: Dedi dan seorang rekannya, segera menahan dada Slamet dengan tangan mereka.
"Jangan ikut campur, Mas Slamet! Ini urusan warga!" gertak Dedi dengan mata melotot.
Slamet meremas jemarinya dengan geram. "Kalian semua sudah gila! Kalian bakal menyesal melakukan ini!"
Tarjo tidak lagi mempedulikan teriakan Slamet maupun teguran Pak RT. Seluruh perhatiannya terpusat pada tangkai besi tebal dari gembok tua yang mengunci pintu depan rumah tersebut. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dari otot lengannya yang keras karena biasa dipakai kerja kasar, Tarjo menekan kedua gagang pemotong besi itu rapat-rapat.