BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #22

Gembok yang Putus

TAK! KLANG!

Suara benturan nyaring dari besi tua yang terbelah bergema sangat keras menembus pekarangan rumah Pak Dani. Tangkai tebal gembok besi hitam itu akhirnya tidak mampu lagi menahan tekanan hebat dari rahang baja pemotong besi milik Tarjo.

Gembok besi hitam yang selama dua tahun terakhir menjadi simbol misteri, bahan gosip, dan sumber paranoia bagi warga RT 04 itu kini terbelah menjadi dua bagian. Potongan besi tua yang panas itu terlepas dari selot kawatnya, memantul di ambang pintu, lalu jatuh menghantam lantai semen teras dengan suara dentang yang mengakhiri keberadaannya.

Seketika itu juga, suasana di pekarangan berubah menjadi hening secara mendadak.

Puluhan warga yang tadinya berteriak-teriak beringas mendadak bungkam. Asap tipis berbau besi terbakar dan minyak tanah melayang pelan di udara malam. Selot kawat pintu depan itu kini telanjang, tanpa ada gembok, dan tanpa ada penghalang besi apa pun yang tersisa.

Tarjo menurunkan pemotong besinya ke lantai teras dengan napas memburu. Dada pria itu naik turun dengan cepat, matanya terbelalak menatap selot pintu yang kini sudah terbebas dari gembok. Senyum kepuasan yang liar dan penuh kedengkian perlahan-lahan terukir di wajah kusamnya.

"Putus..." gumam Tarjo penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah kerumunan warga di bawah teras, lalu berteriak keras, "Gemboknya sudah putus! Pintunya sudah tidak terkunci dari luar lagi!"

Sorakan massa kembali meledak di tengah malam. Rasa penasaran, dendam, dan hasrat untuk membuktikan tuduhan uang haram yang dipupuk selama berminggu-minggu membuat warga kehilangan sisa-sisa rasa hormat mereka terhadap privasi orang lain.

Lihat selengkapnya