BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #23

Mendobrak Masuk

Pintu depan kayu tua itu kini terbuka lebar, menganga bagaikan mulut goa kelam yang siap menelan siapa saja yang berani melangkah melewati ambang batasnya. Angin malam yang dingin menghembus pelan, membawa jelut asap minyak tanah dari obor bambu menerobos masuk ke dalam ruang depan rumah Pak Dani. Suasana mencekam mendadak tercipta saat batas privasi sebuah keluarga resmi dirusak oleh paranoia massa.

Tarjo tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan emosi yang meluap dan dada yang dibusungkan penuh kemenangan, ia melangkah masuk melewati ambang pintu secara beringas. Langkah kakinya yang kasar berdentam berat di atas lantai semen, disusul oleh Dedi, Pak Karso, Bu Sumi, serta belasan warga lainnya yang berdesakan merangsek masuk ke dalam rumah.

Mereka bergerak bagaikan gelombang air bah yang tidak terkendali, memenuhi teras sempit hingga meluber ke dalam ruang tamu. Rasa penasaran yang selama berminggu-minggu dipupuk di pos ronda dan tukang sayur kini telah berubah menjadi obsesi liar yang melumpuhkan akal sehat. Warga benar-benar lupa akan etika dasar bertamu. Tidak ada yang mengucapkan salam, tidak ada yang meminta izin, dan tidak ada yang mempedulikan norma tetangga.

"Periksa semua sudut!" teriak Tarjo memberikan perintah bagaikan pimpinan pasukan di dalam rumah orang lain. "Periksa bawah meja, belakang lemari, dan kolong kasur! Jangan sampai ada brankas, karung uang, atau barang-barang haram yang terlewat!"

Dedi mengayunkan senter besarnya ke seluruh penjuru ruangan, menciptakan pendar cahaya liar yang menari-nari di dinding papan kusam. Sementara itu, Bu Sumi dengan napas memburu menerobos mendekati rak kayu tua di sudut dinding. Warga saling dorong dan saling senggol, mata mereka bergerak liar menyapu setiap inci ruangan, berharap bisa menemukan tumpukan uang tunai hasil kejahatan, perhiasan emas simpanan, atau setidaknya barang-barang terlarang yang selama ini mereka tuduhkan.

Pak RT melangkah masuk dengan tangan bergetar hebat, didampingi Slamet yang akhirnya terlepas dari pegangan pemuda kampung. Wajah Slamet kelihatan sangat geram menatap kelakuan tetangga-tetangganya yang sudah seperti orang kesurupan.

"Kalian benar-benar sudah tidak punya akal sehat!" seru Slamet tajam sambil berusaha memegang bahu beberapa warga yang hendak mengacak-acak sudut ruangan. "Rumah orang lain kalian masuki dan acak-acak secara beringas seperti ini! Apa kalian tidak sadar kalau tindakan kalian ini murni kejahatan?!"

Namun, seruan tegas Slamet diabaikan total oleh massa yang sedang sibuk memuaskan dendam dan rasa penasaran mereka. Kegilaan kolektif telah menutup telinga mereka rapat-rapat dari logika dan rasa malu.

Aksi penggeledahan yang dramatis dan penuh emosi pun dimulai di bawah pendar remang cahaya obor dan pendar senter.

Tarjo memimpin penggeledahan di ruang tengah. Ia melangkah kasar mendekati sebuah meja kayu berukuran sedang di dekat dinding. Tanpa rasa ragu, Tarjo menyambar penutup meja berbahan kain kusam dan menariknya secara mendadak hingga beberapa cangkir seng di atasnya berdentang nyaring. Ia meraba-raba bagian bawah meja, mengetuk-ngetuk permukaan kayu tempat menaruh barang, dan memeriksa kaki-kaki meja secara rinci. Ia yakin ada selot rahasia atau tombol tersembunyi yang dipakai untuk menyimpan harta haram. Namun, jemarinya hanya mendapati kayu papan tua yang kasar dan berdebu.

"Bukan di sini! Pasti disembunyikan di kamar!" jerit Tarjo sambil berbalik dengan mata terbelalak.

Lihat selengkapnya