Di tengah ruang tamu yang mendadak sunyi, perhatian seluruh warga yang berdesakan perlahan teralih ke arah sudut ruang tengah. Di sana, di balik meja makan kayu sederhana yang diterangi pendar redup lampu bohlam gantung, keluarga Pak Dani duduk melingkar dengan sangat tenang.
Pak Dani duduk di ujung meja dengan posisi tubuh yang tegap dan santai, mengenakan kemeja polos yang bersih dan sarung kusam. Di sebelahnya, istrinya duduk mengelus rambut anak perempuan mereka, Rara, yang tertidur lelap dengan kepala bersandar di atas pangkuan sang ibu. Sementara itu, Dimas, anak sulung mereka yang masih berseragam sekolah dasar, duduk memangku dagu sambil menatap kerumunan warga yang membawa obor dan linggis.
Tidak ada jeritan ketakutan. Tidak ada tangisan histeris. Tidak ada kepanikan yang membuncah dari wajah mereka.
Tatapan mata keluarga itu sangat bersih dan polos. Senyuman tipis yang sangat tulus bahkan terukir halus di sudut bibir Pak Dani saat pandangannya beradu dengan mata Tarjo yang masih memegang pemotong besi besar di tengah ruangan.
Keheningan yang menyelimuti ruangan itu terasa jauh lebih berat daripada suara teriakan beringas warga di luar tadi. Kebencian, amarah, dan tuduhan keji yang dibawa warga dari luar seolah-olah menguap begitu saja saat menabrak tembok ketenangan keluarga tersebut.
Pak RT melangkah maju beberapa langkah dengan lutut yang gemetar. Seluruh keberaniannya sebagai ketua pengurus lingkungan mendadak luntur. Ia menatap Pak Dani dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Pak... Pak Dani..." panggil Pak RT dengan suara parau yang nyaris tertahan di tenggorokan.