Meskipun keheningan yang menyesakkan telah menguasai ruangan, Tarjo yang hatinya sudah terlanjur keras oleh kedengkian masih enggan mengakui kekalahannya begitu saja. Rasa malu yang amat sangat membakar dadanya justru memicu sisa-sisa keputusasaan dalam dirinya untuk tetap mencari bukti kejahatan.
"Tidak mungkin!" teriak Tarjo mendadak, memecah keheningan ruangan dengan suaranya yang parau dan memaksakan diri. "Pasti ada yang kalian sembunyikan! Orang biasa tidak mungkin hidup tertutup begini kalau tidak punya rahasia haram!"
Tarjo melangkah maju dengan kasar, mengabaikan teguran Pak RT. Ia kembali mendobrak pintu kamar tidur utama yang hanya disekat kelambu kain kusam, seolah apa yang dilihatnya sebelumnya belum cukup meyakinkan hatinya yang buta prasangka. Warga yang tersisa menyaksikan dari belakang dengan pandangan yang makin ragu dan penuh kecemasan.
Di dalam kamar itu, Tarjo kembali menarik sprei kasur busa yang sudah tipis, membanting bantal tua ke lantai, dan membuka paksa lemari pakaian kayu satu-satunya itu. Tangannya yang kusam menyapu seluruh permukaan atas lemari, berharap kali ini akan menemukan tumpukan uang tunai, dokumen gelap, atau barang berharga hasil kejahatan yang ia bayangkan.
Brak! Brak!
Suara benturan tangan Tarjo ke pintu lemari bergema keras. Namun, yang jatuh dari dalam lemari tua itu hanyalah beberapa helai sarung kusam, mukena tua milik istri Pak Dani, dan tumpukan seragam sekolah anak-anak yang terlipat sangat rapi.