BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #27

Tamparan Ketenangan

Ruang tengah rumah Pak Dani kini dipenuhi oleh puluhan warga yang berdiri mematung bagaikan patung-patung batu yang kehilangan nyawa. Obor bambu yang dipegang pemuda kampung di teras mulai meredup, menyisakan pendar cahaya kuning kusam yang memperjelas betapa tidak berdayanya warga di hadapan kenyataan.

Pak Dani melangkah kembali ke ruang tengah, berdiri di samping meja makan tempat istri dan anak-anaknya berada. Ia menyapu pandangannya ke arah Pak RT, Bu Sumi, Dedi, Pak Karso, dan seluruh warga yang memenuhi ruangan sempitnya.

Tidak ada bentakan amarah. Tidak ada kata-kata maki yang keluar dari mulutnya untuk membalas daun pintu rumahnya yang telah dirusak atau privasi keluarganya yang telah dilanggar secara kasar.

Sebaliknya, Pak Dani tersenyum sangat tulus. Senyuman yang begitu bersih, jujur, dan hangat, sebuah senyuman yang justru terasa bagaikan tamparan keras yang menghantam tepat di wajah dan kesadaran setiap warga yang hadir.

"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian..." kata Pak Dani dengan bahasa tutur yang amat sopan dan berwibawa. "Karena Bapak dan Ibu sudah terlanjur berkumpul di dalam rumah kami yang sederhana ini, apakah ada yang mau minum teh hangat dulu? Di dapur masih ada sisa air panas di dalam termos."

Lihat selengkapnya