BOGO

ANTON SYAHRONI
Chapter #28

Hancurnya Kesombongan

Satu per satu warga yang tadinya merangsek masuk dengan emosi meluap mulai berbalik arah. Tanpa ada komando dari siapa pun, mereka melangkah mundur keluar melewati ambang pintu depan yang telah rusak, meninggalkan ruang tamu rumah Pak Dani dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Langkah kaki warga terasa sangat berat dan lambat, seolah-olah ada beban gaib berukuran raksasa yang mendadak menindih pundak mereka masing-masing. Obor bambu yang tadi diusung tinggi-tinggi dengan penuh rasa bangga kini diturunkan, diusap ke atas tanah hingga padam, meninggalkan bau asap hitam yang menusuk hidung.

Tidak ada lagi teriakan emosi. Tidak ada lagi sorak-sorai kemenangan. Tidak ada lagi bisikan gosip atau tebakan-tebakan liar tentang harta simpanan.

Di pekarangan rumah Pak Dani yang kini rusak terinjak-injak, puluhan warga berjalan pulang menyusuri gang-gang gelap RT 04 dalam keheningan total yang mengerikan. Paranoia kolektif dan rasa iri yang selama berminggu-minggu menjadi perekat solidaritas semu di antara mereka kini mendadak berbalik menyerang mental mereka masing-masing.

Bu Sumi berjalan tertatih-tatih didampingi suaminya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bayangan wajah ramah istri Pak Dani dan tatapan polos anak-anak Pak Dani terus membayangi pikirannya, membakar rasa bersalah yang teramat dalam di dalam dadanya. Ia sadar, mulai esok hari, ia tidak akan pernah bisa lagi berdiri dengan dada tegak tanpa merasa hina oleh perbuatannya sendiri.

Lihat selengkapnya