Sinar matahari pagi merayap pelan menembus celah-celah pepohonan di RT 04, menerangi pekarangan rumah Pak Dani yang masih menyisakan jejak-jejak kedatangan warga semalam. Rumput-rumput kecil di halaman kelihatan rebah terinjak-injak, dan sisa-sisa jelut asap minyak tanah masih menempel tipis di tiang teras semen.
Namun, suasana di kampung RT 04 pagi itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Gang-gang yang biasanya ramai oleh suara sapaan warga, tawa riang ibu-ibu di tukang sayur, atau obrolan bapak-bapak di pos ronda mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan lengang.
Rumah Bu Sumi tertutup rapat, pintu depannya tidak dibuka sedikit pun. Di tempat jual sayur keliling, ibu-ibu yang biasanya sibuk bergosip kini bertransaksi dengan suara sangat pelan, menundukkan kepala mereka masing-masing tanpa ada yang berani menyinggung nama keluarga Pak Dani sama sekali. Rasa malu kolektif telah mengunci rapat mulut-mulut mereka dari perbuatan gibah.
Tarjo bahkan tidak kelihatan keluar dari rumahnya sejak subuh. Pintu dan jendela rumahnya terkunci rapat dari dalam, seolah-olah ia kini bergantian mengisolasi dirinya dari dunia luar karena tidak sanggup menanggung beban malu di hadapan tetangga-tetangganya.
Sekitar pukul delapan pagi, Pak Dani keluar ke teras rumahnya. Ia mengenakan celana kain santai dan kaos polos yang bersih. Wajahnya kelihatan sangat segar, tanpa ada sedikit pun raut kelelahan atau kecemasan setelah peristiwa Pengepungan besar semalam.
Di tangannya, Pak Dani membawa sebuah gembok besi hitam baru berukuran sedang yang dibelinya secara mandiri, lengkap dengan dua buah engsel kawat pengganti dan sebuah palu kecil.
Dengan gerakan tangan yang sangat terampil dan tenang, Pak Dani mulai melepas selot kawat lama yang rusak akibat tebasan pemotong besi semalam. Ia mengetuk-ngetuk paku baru ke dinding pintu kayu tua, memasang selot kawat pengganti dengan sangat rapi dan presisi.