Beberapa bulan telah berlalu sejak peristiwa malam Pengepungan di RT 04. Musim berganti, dan hujan turun menyiram jalanan tanah kampung, memudarkan sisa-sisa jejak jelut asap obor dan bekas galian pasir di pekarangan rumah Pak Dani.
Namun, dampak psikologis dari peristiwa malam itu tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan warga RT 04.
Kampung yang tadinya riuh oleh kasak-kusuk dan prasangka kini berubah menjadi lingkungan yang sangat canggung dan hening. Pos ronda yang dulu selalu ramai oleh warga yang berspekulasi tentang keluarga Pak Dani kini sering kali kosong melompong di malam hari. Warga merasa enggan untuk berkumpul lagi, karena setiap kali mereka duduk bersama, bayangan rasa malu dari perbuatan keji mereka dahulu akan kembali merayap naik membakar pikiran mereka.
Tarjo menjadi sosok yang paling terpukul oleh perbuatannya sendiri. Pria provokator yang dulu paling vokal itu kini hidup bagaikan bayangan di dalam kampungnya sendiri. Ia jarang terlihat keluar rumah, dan jika terpaksa harus pergi berbelanja atau bekerja, Tarjo akan berjalan cepat dengan pandangan mata yang terus menunduk menatap tanah, menghindari tatapan mata dari tetangga-tetangganya.
Rasa iri dan kebencian yang dipelihara Tarjo, pada akhirnya tidak menghancurkan Pak Dani, melainkan memakan dan merusak jiwanya sendiri dari dalam. Tarjo kini terkurung di dalam penjara rasa malu dan penyesalan yang ia bangun dengan tangannya sendiri, sebuah penjara tanpa dinding fisik yang jauh lebih menyiksa daripada sel tahanan mana pun.