"Bu, cepat ceritakan lagi tentang Ayah!" Aku melompat-lompat di sekitar Ibu. Hal yang selalu aku tunggu-tunggu adalah ketika Tuan Vicky pulang lebih awal dan aku bisa tidur bersama Ibu sambil mendengar kisah tentang Ayah.
"Memangnya kamu tidak bosan? Setiap malam mendengarkan cerita yang sama." Ibu duduk dan menatapku.
"Tidak, tidak, tidak. Kalau bisa aku akan mendengarnya setiap saat, karena Ayah itu hebat!" Aku semakin semangat meloncat-loncat. Sebenarnya aku sudah hafal cerita itu saking sering mendengarnya. Namun, mau diulang berapa kali pun, aku selalu suka.
"Baiklah, ayo kemari. Ibu akan menceritakannya."
Aku menurut, dan segera meringkuk di dekat Ibu.
"Ibu dan Ayah berasal dari tempat yang berbeda. Kami diadopsi dan dibesarkan di rumah ini oleh Tuan Vicky. Orang baik hati yang selalu memperlakukan kami selayaknya keluarga." Ibu mulai bercerita, dan aku menatap wajahnya lekat, tidak ingin melewatkan cerita ini sedikit pun.
"Ibu dan Ayah tumbuh dengan tekad untuk membalas budi dengan melindungi Tuan Vicky walau harus mengorbankan nyawa. Karena ia adalah orang yang menyelamatkan hidup kami. Ibu lahir dan tumbuh di lingkungan kumuh tempat pembuangan sampah, dan hampir mati saat akhirnya tangan Tuan Vicky menyelamatkan hidup Ibu."
Aku menyelusup ke perut Ibu, mencari kehangatan di sana.
"Ayah datang beberapa hari setelah Ibu, dengan keadaan yang lebih mengenaskan lagi. Tubuhnya penuh luka yang hampir membusuk, ia tidak bisa makan selama berhari-hari dan harus mendapatkan perawatan khusus sampai akhirnya bisa kembali normal."
Aku selalu salut saat mendengar bagian ini. Kehidupan seperti apa yang Ayah jalani sebelumnya? Bahkan Ibu saja bilang tidak tahu soal itu karena Ayah tidak pernah ingin membicarakannya.
"Ibu selalu bertanya, kenapa Ayah bisa sampai seperti itu. Namun, ia tidak pernah bercerita. Setiap ditanya, ia hanya tersenyum sambil bilang kalau lebih baik Ibu tidak tahu, karena itu bukanlah cerita yang menyenangkan." Ibu terdiam sejenak, dan aku bisa melihat seulas senyum di wajahnya.
"Ibu, ceritakan bagian yang itu saja! Aku bosan mendengar bagaimana kalian dekat dan jatuh cinta! Langsung ke bagian yang paling aku suka saja, cepat, Bu!" Aku merengek, karena cukup bosan mendengar cerita kehidupan romantis mereka, dan lebih tertarik pada cerita heroik Ayah.
"Ahaha, iya, iya, baiklah." Ibu ikut meringkuk di sebelahku sambil mengibaskan ekornya.
"Ini adalah cerita saat Ibu bahkan tidak tahu kalau kamu sudah ada di dalam perut Ibu. Ayah selalu bilang kalau Tuan Vicky itu adalah orang yang dihormati dan dianggap penting di kalangan manusia lainnya. Karena itu juga, Tuan Vicky sering bertemu orang-orang jahat. Ayah sering ikut Tuan ke luar untuk menjaganya, dan ia juga selalu bercerita banyak hal tentang orang-orang yang bertemu dengan Tuan serta kegiatan mereka."
Ya, cerita setelah ini adalah bagian yang aku suka. Aku mengibaskan ekor, tidak sabar menunggu Ibu melanjutkan ceritanya.
"Ayah tidak akan tidur ketika Tuan Vicky belum pulang ke rumah, walau itu berlangsung beberapa hari. Ya, begitu besar kesetiaan Ayah pada Tuan." Ibu menjeda ceritanya sebentar.
"Malam itu, Tuan Vicky pulang membawa beberapa orang yang berpakaian rapi, seperti biasa mereka bercakap-cakap dan menikmati jamuan di rumah ini. Ibu dan Ayah turut di sana, memperhatikan. Ibu tidak terlalu tahu apa yang dimaksud dengan gerak-gerik mencurigakan yang dikatakan Ayah saat itu. Ibu merasa semuanya baik-baik saja, tetapi pendapat Ayah berbeda. Mungkin karena Ayah sering terlibat langsung dalam penyerangan yang seringkali dilakukan orang-orang jahat kepada Tuan, ia jadi lebih tahu dan peka."
Inilah hal yang aku suka, sebuah kisah yang memang heroik, tetapi juga merupakan luka, tentu saja untuk Ibu. Aku tidak tahu kenapa terkadang Ibu sendiri yang menceritakan hal itu padaku dengan alasan bahwa ia bisa mengenang Ayah dan meredakan rindu dengan membicarakan tentangnya. Aku tak begitu mengerti, tetapi aku akan dengan senang hati mendengarkannya. Aku hanya bisa mendengar kisahnya tanpa bisa bertemu. Satu-satunya yang bisa kulihat hanyalah foto Ayah, Ibu dan Tuan Vicky yang dipajang di ruang tengah.
"Entah apa yang terjadi, saat itu keadaan menjadi sangat kacau. Beberapa orang yang datang bersama Tuan tiba-tiba menyerang dan menodongkan senjata. Ayah yang sudah menduga hal itu dari awal bisa bergerak dengan cepat untuk melindungi Tuan, sedangkan Ibu yang tidak tahu apa-apa tidak bisa melakukan banyak selain menggeram ke arah mereka."
Ibu berhenti dan memejamkan matanya, aku menunggu.
"Kamu sudah tahu kelanjutannya, kan?"
"Aku tahu, tapi aku ingin mendengarnya lagi. Setelah ini adalah bagian yang paling seru, cepat ceritakan, Bu!" Aku merengek.