Bonnie

aksara_g.rain
Chapter #2

Bab 1 : Akhir Perjalanan

"Mau kita apakan dia?"

"Entahlah, buang saja ke penampungan, dia sudah tidak berguna!"

"Baiklah. Ayo cepat, Petter, masuk ke kandang sekarang!" Seorang pria menarik kalung di leherku dengan kasar dan memasukkanku ke kandang secara paksa.

Setelah aku masuk, pintu langsung dikunci dan kandangku dilempar kasar ke sebuah bagasi mobil.

"Hei, apa yang kalian lakukan! Keluarkan aku! Kalian mau bawa aku ke mana!" Aku berusaha memberontak, sebelum pria itu menutup bagasi.

"Berisik! Diam saja dengan tenang di sana!" Nada bicaranya tinggi, kakinya juga tidak ragu menendang kandang dengan sepatu beratnya. Ia lantas menutup bagasi mobil dengan kasar.

Akhirnya aku diam dan pasrah, meringkuk sambil merasakan mobil melaju membawaku entah ke mana. Apa mungkin ke tempat penampungan seperti yang Pelatih Joan katakan? Namun, aku tidak tahu tempat penampungan itu seperti apa.

Dari awal aku besar di markas yang letaknya jauh di tengah hutan, dilatih sejak kecil untuk menuruti perintah Pelatih Sam yang sangat menyayangiku dan mengurusku dengan sangat baik meski beberapa orang di sana terlihat tidak menyukai keberadaanku. Beberapa orang lagi justru terinspirasi dan ikut mengadopsi anjing untuk menemani mereka 'berburu'.

Aku pernah beberapa kali ikut dalam operasi. Namun, semakin lama mereka semakin tidak menyukaiku. Bukan karena aku tidak menurut, kurasa, tapi karena mereka menyadari bahwa hidungku tidak berfungsi dengan baik setelah operasi hari itu. Apalagi Pelatih Sam juga tewas saat itu, tidak ada yang benar-benar sukarela mengurusku. Apalagi kalau tahu aku sudah tidak berguna.

Aku hidup di antara pria berwajah garang yang tertawa setelah menghabisi lawannya dan senang melihat darah muncrat keluar dari kepala targetnya. Mereka seringkali menyebut diri sebagai pembunuh bayaran, yang bekerja hanya untuk uang meski itu harus menghilangkan nyawa orang.

Aku tidak mengerti, tugasku hanyalah menuruti perintah mereka. Lagipula, selama ini mereka memperlakukan aku dengan cukup baik. Ya, selama aku masih berguna dan selama Pelatih Sam masih ada. Yah, aku tidak tahu kalau Pelatih Sam masih ada, apakah ia akan membiarkanku dibuang seperti ini? Atau ia juga akan melakukan hal sama karena aku sudah tidak lagi berguna?

Sekarang, aku dibuang dan tidak diinginkan lagi. Masih banyak yang bisa menggantikanku di sana, tentu saja yang jauh lebih baik dan berguna daripada aku.

Aku tidak mau berharap banyak, hanya ingin hidup sebagaimana mestinya. Memiliki majikan yang penuh kasih sayang, dan mungkin memiliki nama lain yang mereka berikan padaku. Aku hanya ingin bertemu orang yang tidak peduli soal kekurangan pada hidungku. Atau aku memang layak untuk dibuang dan hidup sendirian?

Memang, beberapa kali aku melihat anjing yang juga menjadi korban di lapangan, hilang entah ke mana. Mungkin ini saat untukku juga.

Entah berapa lama, akhirnya mobil berhenti dan orang itu membuka bagasi, dengan kasar mengangkat kandangku. Ia berjalan cepat masuk ke sebuah gedung.

Pelatih Hans lalu menyimpan kandang di atas meja dan seseorang tersenyum menyembul dari bawah.

"Ah, kau selalu membawa barang rongsok ke sini, ya," Pria itu menarik kandangku dan memindahkannya ke bawah.

"Kalau barang mulus, aku bisa pakai. Mana bisa aku berikan begitu saja padamu. Sebenarnya, sayang sekali. Peter itu termasuk jagoanku, tapi markas tidak akan mau repot-repot mengurus barang cacat, apalagi penanggung jawab sebelumnya juga sudah mati." Pelatih Hans terkekeh.

"Yah, kalian orang-orang berdarah dingin. Mana mungkin memiliki hal semacam rasa kasihan." Keduanya lantas tertawa keras.

Entah apa lagi yang mereka bicarakan, tetapi sesaat kemudian suara Pelatih Hans sudah tidak terdengar lagi. Jadi, aku benar-benar dibuang? Yah, setidaknya aku mungkin mendapatkan majikan baru, pria cungkring berkacamata yang kini mengangkat kandangku dan berjalan melewati pintu besi.

Sebuah ruangan luas dengan ratusan kandang kecil. Suara gonggongan terdengar dari berbagai arah. Inikah yang disebut penampungan?

Lihat selengkapnya