Setiap hari, aku selalu melihat satu dua anjing yang dikeluarkan dari kandang dengan keadaan kaku dan dikerubungi lalat. Memang wajar sekali mereka bernasib malang, penampungan ini hanya memberikan kami makan sekali dalam sehari, atau mungkin lebih dari sehari. Ruangan yang tertutup membuatku sulit menentukan waktu, tidak tahu kapan siang atau malam. Sudah berganti hari atau belum, jam berapa biasanya pengurus memberi makan, tidak ada yang tahu pasti.
Makanan yang diberikan pun sangat sedikit. Sepertinya mereka memang tidak peduli berapa ekor anjing yang akan mati setiap harinya.
"Sampai kapan kita akan seperti ini?" Aku bertanya pada Clay bukan karena tidak tahu, tetapi ingin tahu apakah anjing lain tidak ingin keluar dari tempat ini? Tidak adakah yang bisa dilakukan untuk kabur?
"Sampai tubuh kita membusuk. Ya, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai tubuh kita dikerubungi lalat dan diangkut seperti teman-teman kita sebelumnya." Clay menjilati kaki depannya yang tinggal satu itu.
"Apa tidak ada jalan keluar?"
"Lupakan saja. Pintu besi di sana itu sulit diterobos." Clay tampak santai, seolah-olah mati di tempat ini pun ia tak masalah.
"Kau bisa disebut sebagai anjing militer kalau bisa kabur dari sini. Tetapi, apakah anjing militer memang akan dimasukan ke tempat pembuangan seperti ini. Benar begitu, kan, Tuan Herder?" Suara dari atas sana terdengar merendahkanku. Tak ayal Max pun menertawakan.
Aku tidak bisa menyangkal, kalau aku memang dibuang oleh mereka. Tetapi bukan berarti aku bisa diam saja dan menunggu waktu kematian di tempat seperti ini. Aku juga ingin menikmati dunia luar dengan bebas.
Aku tak menghiraukan perkataan Max, dan mencoba melihat sekitar. Kandang kawat ini hanya dikunci dengan grendel ukuran sedang. Tidak ada gembok atau kunci khusus. Melihat pengamanan kandang yang asal-asalan, aku mengerti bahwa pintu besi itu memang tidak mudah untuk diterobos. Terlebih, hanya itu satu-satunya jalan untuk keluar masuk.
"Hei, Clay, apa kau tidak ingin keluar dari tempat ini?" Aku berbisik.
"Jangan bermimpi, kita sudah melakukan berbagai cara untuk keluar dari sini, tetapi selalu gagal. Max yang dulunya selalu bersemangat untuk keluar pun sekarang sudah menyerah." Clay memelankan ucapannya.
Sekarang aku bisa mengerti mengapa Max sangat sensitif. Ternyata anjing itu sudah kehabisan akal sehat.
Aku menatap pintu kandang, sepertinya gampang saja menggeser grendel kunci itu dari dalam. Selama beberapa hari ini, aku selalu memperhatikan sekitar barangkali ada celah yang bisa kumanfaatkan untuk kabur.
Kaki depanku mencoba menggeser grendel pintu kandang, memang tidak mudah tapi akhirnya terbuka. Aku melompat keluar dan berdiri di tengah-tengah ruangan yang sekelilingnya bertumpukan kandang.
"Hei, kalian semua, dengarkan aku! Aku punya ide agar kita semua bisa kabur dari sini." Aku mencoba mengambil fokus para anjing.
Mereka mulai berhenti mengonggong dan menggeram.