Hujan turun dengan derasnya, menyapa dengan tetesan-tetesan dingin yang menari di udara, satu dua kali sambaran petir menerangi langit malam. Aku merapatkan tubuh di bawah satu-satunya tempat perlindungan yang bisa kudapatkan, emperan toko terbengkalai. Buluku basah, perih terasa semakin menyayat saat luka terbuka di kakiku terkena air hujan.
Aku adalah anjing malang, terbuang di jalanan kota, tiada tempat dan tuan sebagai naungan. Aku mendongak pada langit abu-abu, mencari jawaban atas kehidupan yang penuh penderitaan. Tetapi, hanya ada rintik yang menjawab dengan melodi sedihnya yang terus mengalun. Aku menggelengkan kepala, mengusap telinga yang basah dengan kaki depan.
Aku semakin merapatkan tubuh dan meringkuk karena hujan yang semakin deras. Percikan airnya mulai meninggi dan jatuh menghujani tubuhku. Dingin terasa semakin menusuk, aku ingin mencari tempat lain yang lebih hangat, tetapi sayangnya kakiku bahkan tidak bisa digerakkan karena sakit. Seharian ini pun aku belum mendapatkan makanan, hingga tak punya tenaga lagi untuk berdiri.
Apakah aku akan berakhir seperti ini?
Tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki yang berkecipuk. Aku menoleh, seorang pria paruh baya berjalan cepat di antara hujan, tangannya memegang payung berwarna hitam, tangan satunya lagi meniinjing kantung plastik hitam. Ia semakin dekat dan akhirnya berdiri di sampingku.
Aku mengabaikan manusia itu selagi tidak mengganggu. Namun, perlahan ia mendekat dan jongkok sambil menatap ke arahku.
Aku menggeram, berusaha membuatnya menjaga jarak dariku. Aku ingin berdiri dan menjauh darinya, tidak ada yang tahu manusia itu akan berbuat apa padaku. Namun, aku kehabisan tenaga dan tidak bisa berbuat banyak selain menggertak dengan geraman.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu." Pria itu menyimpan payungnya untuk menutupi tubuhku yang terkena cipratan air hujan yang semakin deras dan mulai membanjiri emperan toko.
Pria itu lalu mengambil sesuatu dari kantong plastik yang dibawanya.
"Nah, makanlah ini. Sepertinya kau lapar." Pria itu meletakan sosis besar di dekatku.
Aku menggeram waspada, tetapi tetap kumakan juga karena benar-benar lapar. Pria itu tersenyum, memakan roti sambil tetap berjongkok.
"Kau sendirian, ya?" Pria itu menatapku.
"Beberapa hari lagi, aku pun akan hidup sendirian. Kau tahu? Istriku sudah la lama meninggal, dan anakku satu-satunya akan kuliah di luar negeri."
Entah apa yang ada di pikiran manusia itu, menyatakan hal tidak penting pada seekor anjing tidak akan mengubah apa pun. Lagipula, aku tidak peduli.
"Aku sudah tahu bahwa hal ini pasti terjadi suatu saat. Hanya saja, aku tidak menyangka akan secepat ini. Anakku tumbuh dengan cepat, aku belum bisa melepasnya." Embusan napasnya mengeluarkan asap putih tipis.
"Anak yang berusaha aku besarkan sendirian. Haha, aku tidak menyangka bahkan tinggi badannya sudah melampauiku." Tangannya terulur, tetapi sebelum ia berhasil memegang kepalaku, aku sudah lebih dulu menggeram. Memperingati lelaki itu untuk tidak sembarangan menyentuhku.
"Kau ini galak sekali. Yah, hidup di jalanan pasti berat dan membuatmu tidak percaya pada manusia, ya?" Ia mengurungkan niat untuk mengusap kepalaku. "Sebenarnya apa yang kau alami sampai seperti ini?"
"Jangan sok baik!" Aku menggonggong, meski tahu bahwa manusia itu tidak akan mengerti apa yang kukatakan.
"Dunia memang kejam, tidak setiap saat kau bisa bertemu dengan orang-orang baik. Lukamu sangat parah ... aku akan membawamu ke klinik setelah hujan sedikit reda. Aku harap kau tidak menolak bantuan dari orang tua ini." Ia terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
"Ahaha, kenapa aku jadi banyak bicara sekali saat ngobrol dengan anjing?" Lelaki itu bangkit berdiri dan menatap langit yang masih menumpahkan air matanya, meski tidak sederas tadi.
"Hei, hujannya sudah mulai reda. Jangan melawan dan tahanlah sebentar. Aku akan membawamu ke klinik, lukamu harus diobati." Lelaki itu perlahan mendekat, menjulurkan tangannya dan dengan perlahan mengangkat tubuhku. Aku hanya bisa pasrah.