Bonnie

aksara_g.rain
Chapter #5

Bab 4 : Pengkhianatan

Setahun telah berlalu, aku selalu berada di samping Tuan Arsenio yang kini tinggal sendirian karena Tuan Muda Dwayne sudah sejak lama pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.

Aku senang bisa tinggal bersama Tuan, dan bersumpah untuk setia menjaganya sampai akhir hayatku.

Tuan selalu membawaku jalan-jalan saat akhir pekan. Ia tidak pernah melupakan kunjungan ke klinik hewan untuk mengecek kesehatanku. Terkadang, ia juga membawaku ke kantornya di hari-hari senggang.

Ketika malam tiba, Tuan selalu bercerita tentang banyak hal di halaman belakang rumah. Tempat favorit Tuan adalah gubuk bambu yang ada di tengah-tengah tanaman bonsai yang ditata rapi. Ia duduk lesehan, terkadang berbaring sambil menceritakan banyak hal padaku.

Tuan sering bercerita tentang masa lalu, saat ia masih memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.

Seperti hari-hari sebelumnya, malam ini pun Tuan membawaku ke halaman belakang sambil membawa seteko teh panas dan sebungkus snack. Aku pun sudah siap mendengar cerita yang selalu diulang-ulang sampai aku bisa menghafalnya.

"Bonnie, kalau saja waktu bisa diputar kembali. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku hanya untuk bekerja, makan, dan tidur. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama istri dan anakku." Tuan meletakkan teko dan duduk di dalam saung bambu. Aku pun melompat, ikut duduk di dekatnya.

"Hahaha, kau pasti bosan mendengar ceritaku yang itu-itu saja, kan, Bonnie?" Tuan mengusap-usap tubuhku.

Aku melompat dan menjilati wajahnya, ingin menyampaikan bahwa aku tidak bosan sama sekali dan bersemangat mendengar ceritanya.

"Haha, kau selalu bisa menghiburku. Nah, makanlah. Kita makan sama-sama." Tuan memberiku snack, dan dengan senang hati langsung kulahap habis.

"Aku beruntung bertemu denganmu. Kalau tidak, aku mungkin akan menjadi Pak Tua yang menyedihkan. Menatap langit sambil berharap orang-orang yang kucintai ada di sini menemaniku." Lelaki paruh baya itu memandang langit.

Aku berbaring tengkurap dengan perut menempel di lantai, melipat kaki belakang dan merentangkan kaki depan. Dengan begini, aku benar-benar siap mendengar apa pun yang akan dikatakan oleh Tuan.

"Kau tahu, Bonnie? Saat sakit, Dwayne pernah mogok makan dan tidak mau minum obat karena ingin disuapi olehku. Waktu itu aku sampai mendadak pulang ke rumah di tengah-tengah meeting. Untungnya, Edwin bisa menyelesaikan semuanya tanpaku. Dwayne sangat senang saat aku pulang, ternyata aku memang terlalu sering mengabaikannya karena terlalu sibuk bekerja. Semuanya menjadi lebih jelas dan berubah menjadi penyesalan, saat Caroline pergi dari hidupku."

Hening sejenak, Tuan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Kepulan asapnya beterbangan saat Tuan mengembuskan napasnya setelah mengisap rokok itu.

"Bonnie, aku benar-benar sudah tua. Apakah kau juga berpikir kalau aku sudah seperti Pak Tua menyedihkan yang hidup sendirian, terkurung dalam penyesalan, dan sedang menikmati dana pensiun?" Tuan menyimpan rokoknya di asbak, lalu merebahkan tubuhnya di sampingku.

"Sayangnya, aku belum bisa pensiun sebelum Dwayne pulang dan mengambil alih perusahaan."

***

"Arsenio!" Seseorang mendekat dengan terburu-buru. Napasnya terdengar berat. Aku tahu orang itu, sudah sering sekali aku melihatnya berdua dengan Tuan. Seseorang yang sering disebut Tuan sebagai partner kerjanya.

"Kenapa tergesa-gesa, Edwin? Ada apa?" Tuan meletakkan selang dan mematikan keran air. Di pagi hari saat akhir pekan, Tuan selalu menyiram tanamannya sendiri dan meliburkan tukang kebun serta pembantu rumah. Tuan melakukan semua pekerjaan rumah dan memasak sendirian.

"Aku sudah mendapat seorang investor yang bisa menyelematkan perusahaan kita."

Lihat selengkapnya