Bonnie

aksara_g.rain
Chapter #6

Bab 5 : Apakah Tuan Selamat?

Aku masih berusaha menyerang dan mengigit tangan Edwin agar ia berhenti menyakiti Tuan. Namun, tubuhku yang kecil dengan mudah ia lempar. Aku terhempas, setelah berhasil membuat jam tangannya terlepas.

"Tuan! Sadarlah, lawan dia!" Aku menggonggong dari kejauhan sambil berlari kembali menyerang Edwin. Dapat kulihat cairan kental berwarna merah itu menciprat ke mana-mana dan mata Tuan sudah terpejam dengan tubuh tak berdaya.

"Hah, benar-benar ... akhirnya bajingan ini kuhabisi juga. Setelah ini, hidupku tidak akan mudah." Setelah mengatakan itu, Edwin keluar dangan membawa dokumen itu. Ia membersihkan tangannya yang berlumuran itu dengan mengusapkannya ke kaos yang dipakainya, lalu menutupnya dengan jaket.

Aku berusaha mengejar sambil menggonggong keras, aku berharap siapa pun menangkap manusia itu. Namun, aku tidak bisa mengejarnya lagi saat ia menaiki taksi yang berjalan cepat.

Aku kembali ke rumah, berlari secepat kilat. Tuan yang tergeletak di lantai dengan dipenuhi cairan kental berwarna merah gelap yang mengalir dari kepalanya.

Apa yang sebenarnya dilakukan Edwin? Kenapa sampai Tuan tidak sadarkan diri seperti ini? Ada apa dengan mereka berdua? Bukankah selama ini mereka berteman baik?

"Tuan, sadarlah!" Aku menjilati wajahnya, sesekali menggonggong, dan mencoba mengguncang tubuhnya sebisaku. Namun, tidak ada hal yang berarti.

Aku harus mencari bantuan! Tapi, bagaimana caranya?

"Tuan, tunggulah sebentar, aku akan membawa pertolongan!" Aku berlari ke luar dan mencari siapa pun orang yang bisa membantu.

"Hei, tolong! Tolonglah selamatkan tuanku di dalam rumah! Aku mohon!" Aku menggonggong pada setiap orang yang lewat, menyampaikan pesan. Namun, sepertinya mereka salah paham dan menghindar. Mereka tidak mengerti apa yang aku ucapkan.

Sekarang bagaimana?

"Hei, ikuti aku! Tolonglah tuanku!" Aku mendekati seorang wanita yang lewat.

"Pergi sana, jangan gigit aku!" Ia berteriak.

"Tidak, tidak! Aku tidak akan mengigitmu. Tolong selamatkan Tuan!" Aku mengejarnya untuk memohon.

"Kya! Anjing gila!" Wanita itu berteriak histeris dan berlari lebih kencang lagi.

"Tidak! Tolong siapa pun ... aku mohon!" Aku hampir putus asa, tidak ada seorang pun yang mengerti. Kalau aku membawa Tuan ke rumah sakit pun, harus dengan cara apa? Tubuhku terlalu kecil untuk membawanya.

"Pak, tolong aku. Tolong Tuanku di dalam sana." Aku menggunakan cara lain, tidak lagi menggonggong dengan keras, melainkan dengan suara pelan. Aku harap pria yang kebetulan lewat ini dapat mengerti.

"Kau lapar? Ini, makanlah." Pria itu melemparkan sosis ukuran besar ke hadapanku.

"Tidak, bukan! Tolong ikuti aku sekarang!" Aku berlari ke halaman rumah, tetapi pria itu malah pergi tidak peduli.

Bagaimana ini? Kalau seperti ini terus, Tuan mungkin akan mati.

Lihat selengkapnya