“Goedemorgen, Audrey!”
Cahaya matahari menyorot lewat jendela yang dibukakan Bjorn.
Bjorn tersenyum pada Audrey yang merengut ke arah jendela jendela. Anak blasteran itu makin kelihatan mirip bule saja, highlight di anak-anak rambut pirangnya makin jelas tertimpa cahaya matahari. Ia duduk merangkul Audrey yang terduduk di kasur, mengganjalkan sebuah bantal ke bawah kepala Audrey, hingga Audrey terduduk bersandar lebih tinggi.
“Elo mau sarapan apa hari ini?”
“Bubur ayam…”
Bjorn mengusap poni Audrey dan menggeleng.
“Besok gue bikinin, sekarang cornflakes aja, mau?"
Audrey bergumam. “Ada madu, nggak?” tanyanya dengan ekspresi merayu.
Bjorn tersenyum sambil menyahut, “ya, ada, lah… Kenapa? Kamu masih punya asam lambung itu?”
“Bjorn… Asam lambung itu penyakit yang nggak bisa disembuhin, cuman frekuensinya aja yang dikurangi.”
Bjorn mengangkat dagunya, meneleng sebentar, lalu mengangkat bahunya. Dia bangkit hendak pergi, lalu berbalik menoleh lagi.
“Minumnya mau apa, jus atau susu?”
“Tea, please...!”
Bjorn berlalu keluar, di tangga ia berteriak.
“Cepetan turun…! Semua udah nunggu di bawah!”
Mendengarnya, Audrey melompat membuka jendela lebar-lebar, lalu menghirup udara pagi dalam-dalam.
“Mmmhhh... Yess! Finally... I'm on vacation...!” katanya memekik kecil. Lalu berlari mengambil handuk kecil dan kimono ke kamar mandi. Tak lama, ia keluar dengan mengenakan kimono itu dengan kepala berbalut handuk. Diedarkannya pandangan keluar melihat ke taman yang putih.
Selesai berdandan rapi, Audrey turun ke ruang makan. Kehangatan matahari membalut udara pagi yang dingin setelah salju turun lebat tadi malam. Semua telah duduk di meja makan dengan mengenakan baju hangat. Om Nico, Tante Ria, Oma, Bjorn, Keisha dan Mas Boy asisten RT mereka, semua sudah mulai meraih sarapan masing-masing. Masing-masing menikmati sarapan pilihan roti tawar dan croissant, telur setengah matang yang lezat, keju dan selai, madu asli, buah-buahan, cornflakes dengan susu. Gelas-gelas kecil berisi susu, jus apel dan jus jeruk, teh dan kopi disiapkan di meja melengkapinya.
“Gimana tidurmu? Enak, ya lagi salju begini?” tanya Tante Ria.
“Wah, sehabis dari spa tadi malam, enak banget, Tante…,” kata Audrey.
Mereka memakan sarapan mereka sambil berbincang tentang keseruan tadi malam di spa center. Tadinya, kan Keisha nggak mau ikut ke spa, tapi dia nggak mau ditinggal sendirian di rumah, jadi akhirnya kepaksa, deh duduk di mobil. Setibanya di lobby, dia makin ngambek sebab dia ketemu sama di Ray, kecengannya dulu lagi bayar tiket masuk sama cewek barunya. Lucunya, si Ray ngajak Keisha gabung sama mereka, dan Keisha nurut aja.
“Ya, gue akhirnya cerita ke cewek barunya si Ray itu, kalau gue nggak jadian ama Ray itu gara-gara gue lesbi,” kata Keisha sambil membenamkan sepotong croissant ke dalam mulutnya.
Terang aja semuanya ketawa. Bukan sekali ini saja Keisha memproklamirkan dirinya sebagai lesbian, tapi nggak ada satupun orang yang percaya. Mereka nggak percaya kalau Keisha bisa naksir cewek. Keisha itu, kan anaknya jelesan, jarang-jarang dia kompak ama anak cewek. Alih-alih, mereka menyarankan Keisha untuk konsultasi ke psikiater. Mereka menganggap Keisha punya gangguan jiwa. Itu sebabnya, orangtua Keisha menyekolahkannya di Singapura biar sekalian bisa terapi pengobatan ke dokter yang ahli. Satu dan lain sebabnya adalah, Keisha itu anak satu-satunya dalam keluarga, dan orangtuanya sudah berumur cukup tua. Sudah sewajarnya, kalau mereka mengharapkan cucu dari Keisha.
Tante Ria buru-buru memotong, "Ah, kamu itu, Kei... Obatmu udah dimakan belom?"
Keisha langsung manyun, merasa nggak ditanggapi.