Seperti yang dijanjikan, Giel datang dengan mobil Maserati keluaran terbaru. Semua orang heboh. Apalagi Tante Ria, kayak mau dapat mantu pangeran aja. Saat Audrey keluar dari kamarnya, mata si Giel langsung kayak yang mau copot dari dapat jackpot. Dia langsung melarikan Keisha dan Audrey ke centrum seperti yang ditagih Keisha kemarin.
Mereka keluar masuk toko-toko pakaian bermerek seperti Mango, Zara, WE, Costes dan H&M. Mereka juga keluar masuk toko-toko kecantikan seperti ICI Paris dan Douglas. Setelah muter-muter dengan tas belanjaan selama dua jam, waktunya Giel merayu Audrey untuk ikut main ke villanya di pantai Zandvoort.
Tapi, Audrey ogah ikut. Padahal Giel yang udah ngeluarin kocek ribuan euro buat dua cewek manja ini udah memohon-mohon kayak pengemis. Audrey keukeuh menolak untuk ikut.
Ngapain coba, cuman buat makan seafood masakan Giel sambil nontonin laut butek doang? Dengan alasan mau ngabisin voucher dari Tante Ria, Audrey menolak ikut.
“Aku akan tinggal di centrum, aku bisa naik trem nanti pulang. Kalian pergi aja berdua.”
“Ayolah, Audrey… Aku mau ngabisin hari ini sama kamu juga. Besok lusa aku sibuk, gak ada waktu buat ketemu kalian. Ayolah, aku mau masakin kalian seafood yang lezat.”
“Tapi, aku mau beli hadiah sunglasses buat Mamaku…,” rengek Audrey.
“Nanti, aku yang beliin buat Mamamu. Kamu, kan masih lama pulang ke Jakarta.”
“Justru itu, kamu juga masih akan ketemu aku nanti.”
Giel menghembuskan nafasnya berat. Keisha ikut-ikutan menghembuskan nafas berat.
Mau tak mau, akhirnya, Giel dan Keisha meninggalkan Audrey sendirian di centrum.
Audrey menenteng tas-tas belanjaannya menuju toko kacamata, Pearle. Di toko itu, dia disambut dengan ramah oleh seorang pelayan yang rupanya adalah orang Indonesia juga, yang bernama Riny. Mereka berdua berbasa-basi dalam Bahasa Indonesia sebentar, lalu mencari kacamata hitam yang Audrey inginkan.
“Ada Emporio Armani yang bagus, nggak, Mbak Riny?”
“Oh, ada yang modern, animal-print tapi gagangnya logam. Mau?” tawar Riny.
“Wah, mau banget, Mbak.”
Riny pergi ke lemari penyimpanan, sementara Audrey memilih kacamata dari Gucci untuk Mamanya. Pelayan itu tak lama muncul dengan kacamata yang dimaksud. “Ini dia… Mau dicoba sekarang?”
“Iya, boleh. Aku juga mau beli Gucci yang ini, bisa minta dibungkus sebagai kado?”
“Oh, ya tentu saja,” kata Riny dengan aksen Dutch yang menyenangkan. “Apakah semuanya ini untukmu?”
“Tidak, Gucci ini untuk Mamaku,” kata Audrey sambil mengenakan kacamata Armani dari atas meja kaca.
“Silakan dicoba dulu, saya bungkus dulu Gucci ini, ya. Sebentar,” kata Riny, ia lalu pergi ke meja kasir untuk membungkus Gucci itu sebagai kado.
Audrey mengangguk sopan, lalu pergi ke kaca pada dinding bersebelahan dengan rak untuk mengamati penampilannya. Cukup lama hingga ia menyadari, bahwa ia tidak sendiri di kaca itu. Seseorang dengan jas hitam berdiri dengan gagah di belakangnya.
“Bagus, kok,” kata pemuda itu dalam bahasa Indonesia.
Audrey menurunkan kacamatanya sedikit, sambil sedikit melemparkan senyuman. “Terima kasih,” kata Audrey sopan. Sekilas ia mengamati, kalau pemuda blasteran itu dan berwajah dan bertubuh tinggi seperti orang bule, tapi berkulit coklat seperti orang Indonesia.
Merasa diamati, cowok itu menekukkan gesture-nya yang coy dengan santai, seperti meminta izin untuk pergi dari tempat itu. Ia pergi ke meja customer untuk menunjukkan sporty sunglasses yang diambilnya dari rak kacamata pada seorang pelayan laki-laki yang datang.
Saat itu, Riny sudah kembali dengan bungkusan kado yang diminta Audrey. Audrey segera membuka tasnya untuk mengambil uang. Dari sudut matanya, sedikit saja, ia merasa cowok itu sedikit mencondongkan kepala memperhatikannya, mau tak mau Audrey menengadah.
Cowok itu tengah tersenyum padanya.
“Kamu berusaha mengenali saya,” katanya.
Audrey merenggut tak enak. “Kamu yang ngeliatin saya!”
“Saya hanya mengamati bagaimana orang-orang mengenakan benda-benda bagus ini...,” kata cowok itu sambil mengerling, tersenyum menggoda. “Mart Derksen.” Mart menyodorkan tangannya.
Audrey ragu-ragu untuk membalasnya.
“Audrey Giandra…,” kata Audrey tak urung menyebutkan nama lengkapnya, sambil menahan senyumnya grogi.