Si therapist berwajah mengkilap itu memutar-mutar pensil di hidung seperti tongkat ajaib. Penghapus itu menyulap hidung bulat badutnya jadi tomat. “Beberapa cewek mengalami masalah dengan hati mereka. Dan cowok sejati akan mencintai cewek dengan hati yang baik. Masalahmu bukan terletak di hatimu, tapi matamu yang menghalangimu untuk melihat pria lain.”
Audrey mencengkeram tangan Keisha, yang mukanya memucat melihat muka therapist yang mirip badut itu. “Kei? Perasaan, koq dia jadi dokter mata, sih? Atau jangan-jangan gue emang sakit mata, ya?”
Keisha mengangguk-angguk dengan wajah diliputi horor, keduanya saling berpegangan tangan mengucapkan kata yang sama. “Kita cabut.”
Keisha menggaruk-garuk gigi dan menjentikkan kukunya pada si therapist. Sedetik kemudian keduanya lenyap dari ruang praktek.
Booz!!
Kunjungan kedua ini Tante Ria yang menemani. Untungnya beda therapist. Nah, sebenarnya, si therapist-lah yang mengunjungi Audrey ke rumah. Dia datang tergopoh-gopoh membawa tas kerjanya. Dia sudah tua, Audrey tidak tega menertawakannya.
Therapist satu ini lebih serius dan sangat-sangat menuntut perhatian, tak sekalipun dia menengok pada Audrey. Wajahnya menunduk dengan mata tertuju pada kertas. Selain bicaranya yang mumbling, hanya sedikit yang bisa ditangkap oleh si therapist itu karena dia menderita hearing-impaired. Tante Ria harus teriak-teriak menyampaikan keluhannya. Untuk bisa mengikuti pembicaraan, dia harus menangkap getaran suara dengan menelengkan kepala, atau mengubah posisi duduknya.
Tubuh therapist tua yang malang itu sesekali guncang, dan seketika itu juga ruangan itu rasanya ikut berguncang. Tante Ria yang pintar mengambil hati, akhirnya mengakhiri sesi itu dengan menunjukkan bebatuan koleksinya, dari mulai intan, sapphire, ruby, emerald, mutiara, cat eye peridot, aquamarine, dan lain-lain sebagainya, sampai ke batu-batu igneous, sedimen dan metamorphic.
“Blood rushing, heart flashing, shiver... You must have been in love.”
Wajah mirip Richard Gere muda itu terangkat dari meja, tersenyum penuh simpatik. Keisha mengangguk-angguk di depan wajahnya.
“Ini serius, Dok. Saya nggak pernah kayak gini sama mantan,” Audrey akhirnya mengaku.
Keisha menunjuk wajah Audrey penuh dengan kepuasan. “Aha!”
“Ini bisa jadi karena kalian punya sex appeal yang kuat satu sama lain. Sulit untuk ditangani ketika kalian berdua tidak memiliki komitmen tertentu.”
Keisha menunjuk si Gere tanda kalau ia setuju.
“Tapi, kita kalau chat biasa-biasa aja, koq Dok? Nggak ada, tuh topik yang sampe nyerempet soal seks?”
Si Gere memalingkan wajahnya. Audrey melirik Keisha yang tengah cengar-cengir sendiri, tauk apa yang dipikirkannya.