Borderline

Vitri Dwi Mantik
Chapter #5

Borderline Disorder

Sore itu, seorang stylist dikirim Tante Ria ke rumah. Audrey setuju kalau rambutnya dipasangi hair-extensions. Oom Nico muncul dengan wajah khawatir membacakan isi surat yang ditujukan untuk Audrey.

Dari si Hitch!

“Wah… Audrey kamu ternyata mengidap borderline disorder kata dokter?”

“APA? Borderline disorder?”

Bjorn mengambil kertas itu dari tangan ayahnya.

“Di sini ditulis, elo diduga menderita borderline disorder dengan memiliki gejala sebagai berikut, sex abuse, food abuse and violence,” Bjorn menjentikkan jarinya di kertas itu.

“Emang selama ini gue memiliki gejala-gejala kayak gitu, nggak, kan?” elak Audrey.

“Anak rekan Oom juga ada yang borderline, dia nyaris bunuh diri tanpa dikenali alasannya oleh orang awam. Penderita borderline rata-rata sangat intelijen dan pandai menutup fakta bahwa dia memang menderita gangguan.”

“Aduhhh, kok jadi bunuh diri, sich?” Audrey makin kebingungan. 

Suicidal is like telling God, ‘You can't fire me! I'm quit’!” Oom Nico mengutip kata-kata itu dengan membuat gerakan tangan di udara, lalu tertawa diiringi oleh Bjorn.

Mas Boy ikut nimbrung, masuk menopang baki berisi cangkir-cangkir kopi. “Borderline, tuh kan ada hubungannya sama bord, nah, karena bord itu dalam Bahasa Belanda artinya piring, berarti artinya kamu, tuch honger terus…”

“Aduh... Mas Boy gak usah heboh, please, dech... Yang ada, gue tuh justru punya penyakit maag. Nih, kopi bikinan Mas Boy ini aja gulanya kurang, nih... Nanti maag gue kambuh, tanggung jawab, dech,” tegur Audrey galak.

“Audrey, toch... Mas Boy ini udah taruh satu sendok teh kopi, enam glutuk gula, pleus diguyur krem setengah gelas. Minum aja, deh, nanti keburu jadi es Cappucino. Nanti-nanti minum cream tea aja kalo nggak kuat sama kopi," kata Mas Boy cuek, menuangkan kopi yang mengepul ke cangkir-cangkir di meja makan.

"Eh, Drey. Kalau lo punya penyakit maag, koq elo bisa jadi abusing food juga, sich?" Bjorn setelah lama menyeruput kopinya. Audrey sudah mengharapkan seseorang akan mengatakan hal itu dari tadi, ia menatap Bjorn dengan pandangan penuh harap.

This is absurd, Bjorn! Selama ini gue kan nggak pernah berlebih-lebihan dalam hal makanan, nggak pernah melakukan tindak kekerasan, nggak punya hasrat gairah seks apapun?”

Lihat selengkapnya