Rumah Pandawa. Itu yang sering dikatakan orang lain pada sebuah rumah berlantai dua, bercat abu-abu dengan pagar tinggi berwarna hitam. Memiliki halaman yang luas dengan beberapa hiasan patung wayang di sana. Dihuni oleh tujuh manusia. Iya, manusia. Manusia biasa. Bukan makhluk astral atau tokoh-tokoh dari negeri dongeng. Mereka hanya manusia biasa. Sepasang suami istri dengan lima anaknya.
"Mas Bima, cepetan dong. Aku heran. Kenapa kok cowok tapi mandinya lama banget. Sebenernya Mas Bima tuh ngapain di dalem? Semedi? Merenung gitu? Atau lagi panggil-panggil leluhur di dalem sana supaya Mas Bima tiba-tiba dapet duit sekarung?" Kulana terus saja menggedor-gedor pintu kamar mandi sambil mengomel. Lantaran sudah hampir dua puluh menit, makhluk yang ada di dalam sana tak kunjung ke luar. Memang aneh. Kebiasaan mandinya yang sangat lama. Tak jarang, dari dalam sana hanya hening. Saudara-saudaranya bahkan pernah berusaha menguping, tapi nihil. Mereka tidak mendengar apa pun. Sungguh itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Masih jadi misteri yang belum terpecahkan.
"Sembarangan kamu. Cowok juga butuh kebersihan, kerapian, dan memperbaharui ketampanan. Bagi gue mandi itu penting. Lo gak akan ngerti." sahut Bima dari dalam kamar mandi.
"Jangan banyak ngomong. Mending cepetan ke luar. Ini udah siang, Mas. Tahu sendiri kan si Dewo kalau naik motor leletnya minta ampun."
"Kenapa gak mandi di kamar mandi atas aja? Malah ribut-ribut kayak gini. Kebiasaan." Arjuna angkat bicara dalam keributan itu.
Kulana diam. Ia tidak mencoba untuk mengomel lagi. Daripada disuruh mandi di kamar mandi atas, lebih baik menunggu Bima. Bahkan, kalau Bima di dalam sana butuh waktu lebih dari satu jam, Kulana rela. Sebab, sampai kapan pun Kulana tak akan mau kalau harus mandi di kamar mandi atas. Lokasinya yang ada di ujung dan agak gelap, membuat suasananya agak horor di sana.
"Bima, cepetan dong. Kasian nih adikmu nanti kesiangan." Kinanti, ibu mereka, ikut bicara.
"Tuh, Mas, ayo dong. Gak kasian apa sama aku? Adik Mas yang super duper cantik ini." timpal Kulana.
"Kamu juga salah, Lana. Bangunnya kok kesiangan terus." ucap Kinanti. Membuat anak perempuannya itu hanya bisa tersipu.
"Nah, denger. Anak gadis kok bangunnya siang. Rasain, kau." kata Bima yang akhirnya ke luar dari kamar mandi. Terhitung tiga puluh lima menit ia di dalam sana. Mandi kembang tujuh rupa?
Bima berjalan ke ruang makan sambil menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil. Santai dengan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek sepaha. Sampai di meja makan, ia mengambil piring dan siap menuangkan satu centong nasi goreng. Seseorang menahan tangannya ketika bahkan nasi goreng itu belum mendarat di piringnya.
"Ganti baju dulu. Sudah rapi baru makan. Kebiasaan." kata Yudistira. Si paling taat aturan.
"Siap laksanakan, Pangeran Yudistira." Bima memberi hormat pada kakaknya itu. Lantas mengibaskan rambutnya sehingga Yudistira terkena cipratan air dari rambutnya. Lantas berlari kabur menuju kamarnya.
"Bima, Mas Yudis itu kakakmu lho. Masih aja suka diisengin." teriak Kinanti.
Yudistira hanya bisa berdecak. Ia sudah pasrah dengan keisengan Bima. Belum lagi keisengan adik-adiknya yang lain.
"Adikmu kebiasaannya belum berubah, Dis. Masih saja iseng."
"Gak apa-apa, Bu. Kalau mereka gak iseng. Rumah ini sepi." jawab Yudis sambil tersenyum ramah.
"Kalau kamu pindah nanti, bisa-bisa Bima yang jadi sasaran keisengan adikmu yang lain."
"Bagus, Bu. Biar si Bima itu merasakan rasanya jadi aku."
"Oh iya, Rana gimana? Kapan dia pulang ke Bandung?"
"Mungkin nanti, Bu. Pas Yudis pindahan rencananya Rana juga akan dateng."
"Harus, Dis. Ibu juga sudah kangen dengan Rana."
Yudistira tersenyum.
"Kamu kok belum siap, Jun? Memang gak kuliah?" tanya Yudistira pada Arjuna.
"Sedang gak ada kuliah, Mas. Saya hanya di rumah."
"Oh iya, saya punya rekan dari penerbitan. Kalau kamu punya cerita bagus. Kasih tau, Mas. Biar dititipin sama dia buat diseleksi."
"Terima kasih sebelumnya, Mas." jawab Arjuna singkat.
"Bantu Arjuna boleh-boleh aja, Dis. Tapi jangan sampai mengganggu fokusmu. Ingat, targetmu harus tercapai terus di kantor." timpal Yudha, ayah mereka.
"Saya enggak terganggu, Yah. Saya cuma kasih tau Arjuna kalau dia punya kesempatan."