Yudha mengelap pahatan berbentuk kepala naga di ujung tongkat saktinya. Bukan sakti secara harfiah. Akal-akalan kelima anaknya saja yang menyebut tongkat itu tongkat naga sakti. Tongkat yang sudah ada semenjak mereka masih kecil. Bahkan kini mereka tahu, konon katanya tongkat tersebut ternyata sudah ada jauh sebelum mereka lahir ke dunia. Tongkat peninggalan kakek buyut mereka dari leluhur. Sampai akhirnya mereka berpikir, jangan-jangan tongkat itu memang sakti. Bisa mengutuk mereka dalam sekali pukul kapan saja jika mereka berbuat salah. Merinding.
"Anak-anak sudah besar, Mas. Masa masih harus diabsen begitu. Sudahlah, enggak capek apa setiap pagi harus ada ritual seperti itu." kata Kinanti, istri Yudha, alias ibu dari lima anak di rumah itu sambil memberikan secangkir teh hangat pada Yudha.
"Ini tradisi, Kinanti. Harus aku terapkan sampai kapan pun. Dulu, bapak aku saja melakukan itu setiap hari. Tanpa terkecuali. Mengabsen tujuh anaknya. Masa aku hanya punya lima saja capek. Malu aku pada orang tua dan leluhurku, Kinanti." balas Yudha, lantas meminum teh hangat itu.
Kinanti berdecak pasrah. "Kamu memang enggak berubah, Mas. Pokoknya, jangan terlalu keras terus sama anak-anak." katanya seraya mengusap pelan bahu suaminya itu.
Yudha memegang tangan istrinya itu dengan lembut. "Kamu tenang saja. Tugasmu adalah memenuhi apa-apa yang mereka butuhkan. Tugasku di sini menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin kepada mereka. Supaya mereka jadi orang, Kinanti. Supaya mereka dipandang oleh dunia." ucapnya tegas dan percaya diri.
Kinanti tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menatap wajah tegas milik suaminya itu. Wajah itu, dari dulu tidak pernah berubah. Orang selalu menganggap wajah itu wajah paling garang, menakutkan. Tapi Kinanti lebih suka menyebutnya wajah paling tegas di muka bumi ini. Wajah paling tampan di matanya. Kalau saja sifatnya sedikit lembut, mungkin dulu gadis-gadis akan memperebutkannya. Kinanti beruntung, bisa menemukan sisi lembut dari seorang lelaki berwajah tegas bernama Yudha Satria. Yang semenjak dua puluh lima tahun lalu menjadi suaminya. Menjadi ayah dari kelima anaknya yang kini tumbuh dengan sangat baik.
Bagaimana bisa Yudha tidak jatuh cinta pada penglihatan pertama terhadap Kinanti. Perempuan paling bersinar di antara perempuan-perempuan yang pernah ia temui sebelumnya. Dua puluh enam tahun lalu, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kulit cokelat berwajah galak itu dipertemukan dengan perempuan berkulit putih pucat dengan rambut panjang terurainya. Yudha berdarah Jawa, keturunan seorang Perwira Tinggi Angkatan Darat. Kinanti berdarah Sunda, keturunan seorang petani di desanya.
Pertemuan cinta sejati memang selalu tak terduga. Pun begitu dengan pertemuan mereka. Bertemu ketika keduanya menimba ilmu di Universitas besar di Yogyakarta. Lalu menikah, dan sampai saat ini menetap di Bandung, kota kelahiran Kinanti. Dan sekarang, mereka hidup dengan lima anak. Sekarang, Yudha masih aktif sebagai pejabat di Bank nomor satu di Indonesia.
Rumah dua lantai bercat putih, dengan pagar hitam dengan halaman cukup luas di daerah utara Kota Bandung. Dihuni oleh tujuh manusia biasa, seperti manusia pada umumnya. Bukan makhluk-makhluk dari negeri dongeng. Orang-orang di sekitarnya menjuluki rumah itu rumah Pandawa. Bukan tanpa alasan, memang karena lima anak dari sepasang suami istri di rumah itu memiliki nama-nama dari tokoh kisah Mahabharata.
Yudha yang terobsesi dengan kisah Pandawa Lima itu, dulu, saat masih muda punya cita-cita. Kalau memiliki anak, ia akan memberi nama yang sama dengan kelima tokoh utama dari kisah Pandawa. Entah mantra dan sihir apa yang dimiliki Yudha, atau memang itu adalah anugerah Tuhan yang Maha Kuasa. Ajaibnya, terlahirlah lima orang anak. Sesuai targetnya. Dan dua diantaranya kembar. Tapi sayangnya, kembar tidak identik. Lelaki dan perempuan. Tapi hal itu tak lantas membuat Yudha kecewa, satu anak perempuan di rumahnya membuat kebahagiaan mereka lengkap di sana.
Anak pertama, laki-laki, sesuai dengan kisah Pandawa, ia diberi nama Yudistira Puntadewa. Anak kedua, laki-laki, ia diberi nama Bima Sena. Anak ketiga, pun laki-laki, ia bernama Arjuna Permadi. Tidak sampai di situ, Kinanti tujuh belas tahun lalu melahirkan anak kembar. Suatu keajaiban lagi bagi keluarga mereka. Yang lahir pertama, laki-laki, ia menjadi anak keempat mereka bernama Sadewa Aswin. Yang terakhir, lahir hanya berjarak sepuluh menit setelah Sadewa. Anak kelima mereka, sekaligus anak yang paling mengejutkan karena ia jadi satu-satunya perempuan. Yudha sempat bingung saat akan memberi nama. Memberinya nama Nakula tidak cukup cocok untuk anak perempuan. Maka, ia hanya mengubah sedikit suku katanya, Kulana Aswin. Lengkap sudah.
.....
Otoriter. Kata yang paling mewakili Yudha. Ia adalah pemegang kontrol di rumah itu. Seolah ia memegang remot berisi aturan-aturan yang selalu siap diarahkan pada kelima anaknya. Aturan dalam seluruh aspek kehidupan anaknya. Bukan tanpa alasan, ayahnya yang seorang tentara dan selalu menerapkan kedisiplinan pada dirinya dan saudaranya. Otomatis saat ini ia menerapkan hal yang sama pada anak-anaknya. Tradisi-tradisinya bahkan ia jalankan sampai saat ini.
Terutama pendidikan. Anak-anaknya harus mengikuti jejak Yudha. Menjadi orang yang berpengaruh dalam bidang keuangan. Seolah satu per satu anaknya harus jadi pejabat di setiap Bank ternama di Indonesia. Mereka benar-benar sangat jarang bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan.