Arjuna Permadi. Anak ketiga dari Yudha dan Kinanti. Beberapa kata yang mewakili sosok Arjuna. Tampan, sudah pasti. Berwibawa, jelas. Cowok baik-baik, tentu saja karena hobinya hanya mengurung diri di kamar. Lembut, buktinya ia sangat suka menolong perempuan, terutama ibunya dan Kulana. Romantis. Dan... aneh. Ralat, super duper aneh. Aneh maksimal. Aneh kuadrat.
Arjuna itu tampan, itu adalah hal paling mutlak yang pernah ada dalam sejarah istana. Arjuna adalah ranking satu kalau soal tampang. Menurut peribahasa bahwa nama adalah doa. Itu sangat berlaku bagi Arjuna. Dikisahkan dalam cerita Pandawa Lima, Arjuna adalah sosok yang tampan. Dan betul saja, Arjunanya Yudha juga sangat tampan. Kulit putih dan bibir kemerahan menjiplak dari ibunya. Mata tajam dan hidung mancung mencuri dari ayahnya. Arjuna bahkan dinobatkan sebagai pakar cinta pada penglihatan pertama. Alias perempuan mana pun bisa langsung jatuh cinta padanya.
Hobinya, mengurung diri di kamar. Sebuah ruangan pribadi berukuran 3x4. Bukan tanpa alasan ruangan itu disebut ruangan pribadi, sebab ruangan itu terpisah dari rumah utama. Lokasinya sekitar empat meter dari pintu dapur. Berada di belakang rumah, bekas tempat pennyimpanan alias gudang. Ia sulap menjadi kamar tidurnya. Sebab sudah saatnya ia punya kamar sendiri. Asalnya ia satu kamar dengan Sadewa. Mereka sudah mulai dewasa, demi menjaga privasi masing-masing. Arjuna mengalah dan menggunakan bekas gudang sebagai kamarnya. Ruangan itu adalah saksi bisu segala macam imajinasi-imajinasi Arjuna.
"Lead female namanya Rindu. Rindu adalah seorang Jurnalis yang sudah cukup punya nama. Intinya dia sudah hampir menuju puncak kesuksesan. Cantik. Punya segalanya ... dan, apa ya? Dan bagaimana ya kehidupan keluarganya. Its okay, tunda, pikirkan nanti. Sekarang Lead male ... namanya Pandu, dia bocah ingusan, masih kuliah kok berani suka sama Rindu ..."
Arjuna dengan segala macam kelebihannya. Tapi, ia adalah manusia yang juga punya kekurangan. Ia adalah sosok yang super duper aneh. Sangat aneh. Buktinya barusan, ia sedang komat kamit sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia punya segudang khayal dan imajinasi tentang tokoh cerita dan dongeng yang mau ia tulis. Agak tidak lazim bagi cowok yang sudah mau memasuki usia dua puluh satu dan sudah kuliah semester lima masih suka mengkhayal dongeng di kepalanya.
Pintu kamarnya berderit pelan. Membuyarkan imajinasinya saat itu.
"Jun, memang kamu gak sibuk nanti sore? Bisa jemput Kulana?" tanya Kinanti.
"Saya enggak sibuk kok, Bu. Saya bisa jemput Kulana. Nanti sore juga rencananya saya mau ajak Kulana pergi sebentar."
"Pergi ke mana?"
"Ada acara yang ingin sekali Kulana datangi, saya ingin ajak dia sebentar."
"Iya. Asal jangan pulang malam."
"Enggak akan terlalu malam, Bu."
Kinanti duduk di tepi tempat tidur Arjuna, tepat di sampingnya. "Ucapan ayahmu jangan terlalu diambil hati ya, Nak."
Arjuna tersenyum. "Enggak masalah, Bu. Saya enggak begitu sakit hati soal ucapan ayah."
"Kamu harus percaya kalau ayahmu sangat sayang sama kamu, Jun. Dan ibu ada untuk dukung kamu terus, apa pun yang kamu jalani."