"Good morning, Kala." sambut Sadewa di gerbang sekolahnya ketika perempuan berjaket abu-abu bernama Kala itu masuk.
Kala mendengus kesal karena artinya ia harus terbiasa lagi mengalami itu di pagi hari setelah libur panjang semester. Pasalnya, Sadewa selalu melakukan itu setiap hari. Menyambutnya di gerbang dengan mengucapkan good morning. Cowok modus.
"Saya kira setelah kamu naik kelas tiga, udah gak akan ngelakuin hal ini lagi." ucapnya ketus.
"Justru aku harus lebih intens. Setahun lagi kan aku lulus, sedangkan kamu masih dua tahun lagi. Kita akan berpisah, Kala."
"Jujur, itu adalah salah satu kenyataan yang membuat suasana hati saya membaik pagi ini."
"Eits, jangan salah. Kuliah kan biasanya dimulai agak siangan, jadi tahun depan walau aku sudah kuliah, aku akan setiap pagi mampir ke sini."
"Bodo amat."
"Kala, kamu itu pendengar setiaku. Aku agak sedih saat tahu kenyataan bahwa nanti aku harus berpisah dari kamu. Membayangkannya saja hati ini sakit." Sadewa menempelkan telapak tangan pada dadanya dengan dramatis.
"Lebay. Sudah, pergi sana. Saya sudah mau masuk kelas." Kala mengusir Sadewa ketika mereka sudah sampai di kelasnya.
Sadewa hanya tersenyum-senyum melihat cewek bernama Kala itu. Cewek yang ia incar dari semester lalu.
Selesai melakukan pertemuan rutinnya dengan Kala. Sadewa kembali tebar pesona sana sini. Bukan rahasia lagi, ia salah satu senior paling favorit di kalangan adik kelas. Bak pangeran di negeri dongeng yang kedatangannya selalu disambut dengan senyuman manis dari para gadis.
Sayangnya, ia betul-betul populer hanya karena rupanya. Bukan karena ia Ketua Osis atau Kapten Basket, bukan juga karena ia cerdas dan juara olimpiade cerdas cermat. Bukan sama sekali. Itu murni karena rupanya. Tidak ada hal lain selain itu.
Anak keempat Yudha itu memang tampan. Pada dasarnya semua anak lelakinya itu punya wajah di atas rata-rata kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Kalau Arjuna peringkat satu tertampan di rumah, Sadewa ini peringkat dua. Memang kulitnya tidak lebih putih daripada Arjuna. Hidung mancungnya juga hasil mencuri dari ayahnya. Dengan mata teduh dari ibunya lengkap dengan bulu mata lentik dan alisnya yang cukup tebal. Tingginya sama dengan Arjuna. Kalau memang masih bisa tumbuh, bisa jadi ia menyusul tinggi kakaknya itu.
"Woy, Dewo." panggil seseorang dari belakang lantas merangkulnya. Itu, si Deni yang rambutnya agak keriting-keriting, teman sekelas Sadewa. Salah satu partner in crime.