Dengan percaya diri, Kulana berjalan dari ruang kelasnya ke arah mading yang ada di depan ruang guru. Di sana sudah banyak siswa lainnya sedang mengerumuni mading. Samar terdengar kerumunan siswa itu tertawa tatkala membaca mading. Ia tersenyum bangga, sudah pasti ceritanya yang terpajang di sana. Sudah bukan rahasia lagi kalau Kulana adalah penulis mading nomor satu di sekolah. Cerita-ceritanya selalu menjadi yang terpilih untuk dipajang. Di sudut kanan bawah kertas yang terpajang di sana selalu tercantum nama penanya, Aswin Lana.
Hanya tinggal beberapa meter lagi ia sampai di kerumunan itu, seseorang menghadangnya. Daniar, sahabat dekatnya semenjak SMP. Daniar mengajak Kulana untuk menjauh sejauh jauhnya dari mading, kalau bisa sulap, mading itu ingin Daniar lenyapkan untuk satu minggu ke depan.
"Kenapa, sih, Dan? Apaan coba?" tanya Kulana.
"Mending kamu gak usah baca mading. Kan, sudah tahu isinya apa. Sudah tahu apa yang terpajang di sana. Kalau bisa jauh-jauh dari sana. Jangan dekat-dekat. Larangan bulan, Lana. Eh, apa ya. Pokoknya gitu, deh." cerocos Daniar.
"Maksudmu apa? Heran. Emang ada apa?" Kulana benar-benar heran dengan sikap Daniar pagi itu.
"Kan, sudah kubilang. Kamu jangan tahu menahu dulu soal urusan mading. Bahaya. Bisa-bisa istana Pandawamu diterpa hujan angin." ujar Daniar, asal bicara.
"Jangan-jangan ..." Tiba-tiba ia menyadari sesuatu di balik sikap aneh Daniar. Lantas secepat kilat ia ke arah mading. Membelah kerumunan itu dan melihat apa yang terpajang di sana.
"WHAT????" Mata kecilnya itu membelalak. Terkejut dengan apa yang ia lihat.
Daniar yang menyusulnya dari belakang hanya bisa menepok jidatnya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Perang antara putri kerajaan Pandawa dengan pangeran buaya jadi-jadian akan segera di mulai. Entah kali ini akan sedahsyat apa perang itu.
Kulana yang tak terima kalau ceritanya tidak dipajang di sana. Nama penanya tidak tercantum di sana. Langsung menuju ruang redaksi sekolah saat itu juga. Ia tak terima, cerita si buaya jadi-jadian yang dipajang di sana. Nama pena "BJ" yang tercantum di sana. Sesampainya di ruang redaksi, ia langsung menemui pimpinan redaksi sekolah di sana.
"Bu Indah, ini gak adil, Bu." ujar Kulana tanpa basa basi pada guru Bahasa Indonesia paling muda di sekolah itu, sekaligus pimpinan redaksi majalah dinding di sana.
"Hallo, Aswin Lana. Gimana liburanmu? Aman istanamu? Gak ada perang dadakan kan di sana?" Bu Indah menyambutnya dengan wajah paling ramah semuka bumi.
"Liburan saya biasa aja. Itu rumah biasa, bukan istana. Perang sesungguhnya sekarang, Bu. Saya gak terima."