Arjuna melambaikan tangan ke arah adiknya yang sekarang berada tepat di seberang jalan. Ia di atas motor matiknya telah siap menjemput satu-satunya adik perempuan yang ia punya. Tepat jam tiga sore. Sesuai dengan kesepakatan mereka.
"Siap?" tanya Arjuna pada Lana seraya memberikan helm.
Kulana mengacungkan jempolnya. "Siap! Tapi kita betul-betul cuma punya waktu satu jam, ya, Mas. Ayah bisa curiga kalau kita pulang telat."
"Tenang aja, cuma sebentar. Kamu sendiri, kan, yang penasaran. Ini kesempatan bagus, belum tentu ada lagi dalam waktu dekat."
Kulana mengangguk, lantas menaiki motor. "Aku kesal hari ini. Sangat kesal." ujarnya.
"Kesal kenapa?"
Kulana mendengus. "Masa ceritaku gagal dipajang hari ini. Aku sudah kerahkan segenap jiwa dan segala rasaku untuk nulis cerita itu. Mas Juna kan tahu sendiri bagaimana aku konsultasi pas nulis cerita itu."
"Haha, gagal sekali atau dua kali itu wajar, Lana. Selebihnya kamu kan selalu berhasil. Lalu apa kata Ibu redaksimu itu soal ceritanya?"
"Bu Indah sama sekali enggak ngejelasin soal alasan kenapa dia nolak naskah aku. Tapi si buaya itu yang sok menilai kalau naskah aku membosankan."
"Buaya siapa? Jangan-jangan yang waktu itu kamu ceritain? Siapa ya? Saya lupa nama aslinya."
"Bagas Johar. Entah Bagas Jontor. Masa dia bilang ceritaku membosankan. Ini bukan jamannya cerita melodrama katanya. Katanya ini jamannya cerita harus unik dan ada komedinya biar gak jenuh." jelas Kulana, bibir kecilnya itu termonyong-monyong.
"Saya cukup setuju dengan pendapat si Bagas Johar."
Bibir Kulana makin monyong. "Kok, Mas malah bela dia? Harusnya Mas bela aku."
"Haha, oke, oke. Maaf. Lain kesempatan, ceritamu pasti dipajang lagi. Bukan hanya di sekolah, tapi di mana pun."
"Pokoknya aku gak terima."
"Iya. Iya. Saya ngerti. Jangan kesel terus, pamali."
"Gimana bisa coba aku kalah lagi ..." dan masih banyak cerocosnya.
Perjalanan mereka ke "Tempat Rahasia" itu penuh dengan obrolan-obrolan seru. Tentang ide-ide segar untuk dituangkan ke dalam bentuk cerita. Sampai cerita-cerita imajinasi negeri dongeng. Arjuna memang merasa beruntung punya adik seperti Kulana. Ia satu-satunya anggota keluarga yang bisa satu frekuensi untuk khayal mengkhayal. Sampai saat ini, Kulana telah terpengaruh racun dari Arjuna, racun mencintai sastra setengah mati.
.....
"Bima, kemana aja lo."
"Bim, woy, apa kabar, Bro."
"Ke mana aja, lo. Semenjak wisuda udah gak pernah nongol."
"Bima, baru kelihatan, nih. Gimana istana? Aman? Haha."